Wisdom – Jalaluddin Rumi

Julai 16, 2009

Wisdom is like the rain.
Its source is unlimited, but it comes down according to the season.
Grocers put sugar in a bag, but their supply of sugar is not the amount in the bag.
When you come to a grocer, he has sugar in abundance.
But he sees how much money you have brought and gives accordingly.
Your currency on this Path is resolution and faith, and you are taught according to your resolution and faith.
When you come seeking sugar, they examine your bag to see what its capacity is, then they measure out accordingly.

~ Jalaluddin Rumi


Setelah Setahun Kesunyian ~ Jalaluddin Rumi

November 19, 2007

Tentang seseorang di pintu Sang Kekasih
dan mengetuk. Ada suara bertanya, “Siapa di sana?”
Dia menjawab, “Ini Aku.”
Sang suara berkata, “Tak ada ruang untuk Aku dan Kamu.”
Pintu tetap tertutup

Setelah setahun kesunyian dan kehilangan, dia kembali
dan mengetuk lagi. Suara dari dalam bertanya, “Siapa di sana?”
Dia berkata, “Inilah Engkau.”
Maka, sang pintu pun terbuka untuknya.

~ Jalaluddin Rumi


Kearifan Cinta ~ Jalaluddin Rumi

November 16, 2007

Cinta yang dibangkitkan
oleh khayalan yang salah
dan tidak pada tempatnya
bisa saja menghantarkannya
pada keadaan ekstasi.

Namun kenikmatan itu,
jelas tidak seperti bercinta dengan kekasih sebenarnya
kekasih yang sedar akan hadirnya seseorang yang
mencintainya ini
sebagaimana kenikmatan lelaki
yang memeluk tugu batu
di dalam kegelapan sambil menangis dan meratap.

Meskipun dia merasa nikmat
kerana berfikir bahawa yang dipeluk adalah kekasihnya, tapi
jelas tidak senikmat
orang yang memeluk kekasih sebenarnya
kekasih yang hidup dan sedar.

~ Jalaluddin Rumi


Nafsu ~ Jalaluddin Rumi

November 15, 2007

Nafsumu itu ibu segala berhala
Berhala kebedaan ular sawa
Berhala keruhanian naga
Itu ibarat perumpamaannya

Mudah sekali memecah berhala
Kalau diketuk hancurlah ia
Walau batu walaupun bata
Walau ular walaupun naga

Tapi bukan mudah mengalahkan nafsu
Jika hendak tahu bentuk nafsu
Bacalah neraka dengan tujuh pintu
Dari nafsu keluar ma’siat setiap waktu.

~ Jalaluddin Rumi


Mujahadah dan Makrifat ~ Jalaluddin Rumi

November 14, 2007

Makrifat itu pengenalan jiwa
Mengenal jiwa dan mengenal Tuhannya
Mengenal dengan sejelas jelasnya
Tidak kabur tapi jelas nyata

Mujahadah itu perjuangan dan usaha
Makrifat itu menuai hasilnya
Mujahadah itu dalam perjalanan
Makrifat itu matlamat tujuan

Makrifat itu pembuka rahsia
Makrifat itu sendiri rasa
Makrifat itu sagunya
Mujahadah itu memecah ruyungnya.

~Jalaluddin Rumi.


Saatnya Untuk Pulang ~ Jalaluddin Rumi

November 13, 2007

Malam larut, malam memulai hujan
inilah saatnya untuk kembali pulang.
Kita sudah cukup jauh mengembara
menjelajah rumah-rumah kosong.
Aku tahu: teramat menggoda untuk tinggal saja
dan bertemu orang-orang baru ini.
Aku tahu: bahkan lebih pantas
untuk menuntaskan malam di sini bersama mereka,
tapi aku hanya ingin kembali pulang.

Sudah kita lihat cukup destinasi indah
dengan isyarat dalam ucap mereka
Inilah Rumah Tuhan. Melihat
butir padi seperti perangai semut,
tanpa ingin memanennya. Biar tinggalkan saja
sapi menggembala sendiri dan kita pergi
ke sana: ke tempat semua orang sungguh menuju
ke sana: ke tempat kita leluasa melangkah telanjang.

~Β  Jalaluddin Rumi.


Kau dan Aku ~ Jalaluddin Rumi

November 12, 2007

Bahagia saat kita duduk di pendapa, kau dan aku,
Dua sosok dua tubuh namun hanya satu jiwa, kau dan aku.
Harum semak dan nyanyi burung menebarkan kehidupan
Pada saat kita memasuki taman, kau dan aku.
Bintang-bintang yang beredar sengaja menatap kita lama-lama;
Bagai bulan kita bagikan cahaya terang bagi mereka.
Kau dan aku, yang tak terpisahkan lagi, menyatu dalam nikmat tertinggi,
Bebas dari cakap orang, kau dan aku.
Semua burung yang terbang di langit mengidap iri
Lantaran kita tertawa-tawa riang sekali, kau dan aku.
Sungguh ajaib, kau dan aku, yang duduk bersama di sudut rahasia,
Pada saat yang sama berada di Iraq dan Khorasan, kau dan aku.

~ Jalaluddin Rumi

Terjemahan:Β  Sapardi Djoko Damono


Takhta Balqis ~ Jalaluddin Rumi

November 9, 2007

Waktu Ratu Saba’–Balqis disambut Sulaiman
ditinggalkannya kerajaan dan kekayaannya
samalah dengan cara kekasih meninggalkan reputasinya.

Semua hambasahyanya takbermakna apaapa lagi,
kurang lagi dari ampas bawang

Istana-istananya dan kebun-kebunnya,
tindihmenindih bagai bangkai binatang.

Balqis mendengar arti batin LA! Tak!
Ditemuinya Sulaiman sonder apa, kecuali
Tahtanya! Bagai kalam penulis seolah

sorang teman, bagai aset karyawan untuk
hari demi hari menjadi ‘gitu akrab, seolah
tahta emasnya itulah satusatunya di dirinya.

‘Kan kuuraikan lagi tentang fenomena ini,
tentulah akan menjadi panjang lagi.

Tahta itu amat besar dan payah untuk dipunggah,
karena ia takboleh dipecahpecah, ia seolah
pemersatuan tubuh manusia.

Sulaiman menatap bahwa hati Balqis ‘tlah terbuka kepadanya
dan tahta ini bakal menghantui
pada dirinya. “Biarkan dibawanya,” katanya. “Ia bakal

menjadi pengajaran kepadanya bak sepatu tua
dan jaket bagi Ayaz. Dia bisa melihat
pada tahta dan sejauh mana perjalanannya.”

Dalam masa yang sama, Tuhan dengan proses
berseturutan generasi sebelum kita:

kulit yang licin dan airmani
dan embryo yang mengembang.

Pabila kau lihat sebutir mutiara di bawah
kau tiba pada buih dan kayuan patah
di permukaan. Pabila matahari bersinar, kau lupa
mengumpulkan klompok Skorpio.

Waktu kau saksikan kemesraan penyatuan,
atraksi penduaan begitu indah
dan menawan, tapi tak begitu menarik hati.

JALALUDDIN RUMI
(The Essential Rumi)

Terjemahan: Dato Dr Ahmad Kamal Abdullah (Kemala)
Β