Bunga Popi ~ Usman Awang

Jun 15, 2007

Dari darah, dari nanah yang punah di tanah,
rangka manusia kehilangan nyawa disambar senjata,
hasil manusia gila perang membunuh mesra,
bunga merah berkembang indah minta disembah.

Yang hidup tinggal sisa nyawa, penuh derita,
kering, bongkok, cacat, tempang dan buta,
perang dalam kenangan penuh kengerian,
sekarang dalam kepahitan,
dalam kesepian.

Yang lain kehilangan anak, suami dan kekasih,
hilang pergantungan, hilang pencarian,
hidup kebuluran,
ribuan janda, ribuan kcewa, ribuan sengsara,
jutaan anak-anak yatim hidup meminta-minta.

Manusia gila perang telah membunuh segala mesra!
perang berlangsung mencari untung tanah jajahan!
perang berlangsung membunuh anak dalam buaian!
perang berlangsung menghantar lebur nilai kebudayaan!

Bunga popi bunga mayat perajurit bergelimpangan,
bunga darah merah menyimbah,
penuh kengerian.

Kami benci pada perang penuh pembunuhan!
kami rindu pada damai sepanjang zaman!

Usman Awang
1955

In English Translation :

Poppies

From blood, from pus that rots in the soil,
from skeletons that have lost their lives,
snatched by weapons,
the result of war maniacs who kill love,
the red flowers bloom beautifully,
requesting to be adored.

Those who live on are remnants of life,
full of sufferings,
wizened, bent, deformed, maimed and blind,
war in retrospect is full of horrors;
they remember now,
in bitterness,
in solitude.

Others lost children, husbands and sweethearts,
lost their sources of support, their livelihood,
they live in starvation,
thousands widowed,
thousands disappointed,
thousands tormented;
millions of orphans live on, and beg.

The war maniacs have killed all love!
war raged and found profit in colonial lands!
war raged and killed babies in their cradles!
war raged, and destroyed cultural values

Poppies are the flowers of fallen soldiers,
flowers drenched red with blood,
full of horrors.

We hate war,
full of killing!
we cry for a never-ending peace!

Usman Awang
1955

(Translated by Adibah Amin)

Sajak ‘Bunga Popi’ itu merupakan nukilan Sasterawan Negara Datuk Usman Awang akan peperangan. Nukilan beliau pada tahun 1955 itu hasil inspirasi daripada pemerhatiannya terhadap pergolakan dunia pada masa itu.


Jiwa Hamba ~ Tongkat Warrant

Mei 15, 2007

Menung seketika sunyi sejenak
kosong di jiwa tak berpenghuni
hidup terasa diperbudak-budak
hanya suara melambung tinggi

Berpusing roda, beralih masa
berbagai neka, hidup di bumi
selagi hidup berjiwa hamba
pasti tetap terjajah abadi

Kalau hidup ingin merdeka
takkan tercapai hanya berkata
tetapi cuba maju ke muka
melempar jauh jiwa hamba

Ingatan kembali sepatah kata
dari ucapan seorang pemuka
di atas robohan Kota Melaka
kita dirikan jiwa merdeka

~ Tongkat Warrant (Usman Awang)

~ Dipetik dari Puisi Baharu Melayu


Kurang Ajar ~ Usman Awang

April 21, 2007

Sebuah perkataan yang paling ditakuti
Untuk bangsa kita yang pemalu.

Sekarang kata ini kuajarkan pada anakku;
Kau harus menjadi manusia kurang ajar
Untuk tidak mewarisi malu ayahmu.

Lihat petani-petani yang kurang ajar
Memiliki tanah dengan caranya
Sebelumnya mereka tak punya apa
Kerana ajaran malu dari bangsanya.

Suatu bangsa tidak menjadi besar
Tanpa memiliki sifat kurang ajar

~ Usman Awang


Puisi Pendek Dari Usman Awang

April 15, 2007

Keris di atas batu
air menjulang buih
seribu dagang lalu
berapa yang menoleh?

~ Usman Awang


Mereka Telah Bangkit ~ Usman Awang

April 11, 2007

Mereka telah bangkit
Dari buku yang dibacanya
Dari tembok yang melindunginya
Dengan bendera dan lilit kepala

Mereka telah bersuara
Demi bumi tanahair yang subur
Demi Islam yang mengajar hidup berani
Demi janji yang kini telah dimungkiri

Mereka sekarang telah bangkit
Di tengah-tengah gelombang zaman
Dari keperibadian yang telah tertindas
Untuk masa depan warisan keturunan

Dari BAHASA lidah zaman hidup kita
Kebangkitan ini pancang detik batu-tanda
Untuk pelaksanaan SATU BAHASA
Yang berdaulat menyinar mutiara

~ Usman Awang


Gadis Dan Ayat Suci ~ Usman Awang

April 1, 2007

Suara yang manis dalam bisik daun-daun
Beralun lagu Tuhan di sayap angin malam
Redup menyusup di bawah langit bertirai sepi
Gadis tetangga (simpatiku pada matanya yang buta)
Dari sinar hatinya membaca ayat-ayat suci

Awan-awan berderetan dalam arakan sejarahnya
Di mana lagu dan suara menjangkau pula
Semakin tinggi, meninggi tak tercapai mata
Disaputnya langit di atas awan berarak
Gema merdu meresap mengocak ke bintang terserak

Lalu melayah menurun mengusap puncak gunung
Melayang manis mencapai bukit-bukit gundul
Menurun lagi merendah mencecah hujung pucuk-pucuk
Dari ranum dalam kembang-kembang segar senyum
Ah, merendah pula ia meratai bumi Tanahair

Semakin malam lagu Tuhan dari bibir syurga
(Gadis buta melanjutkan khatam bulan puasa)
Membawa para malaikat menjengah dada manusia
Hidup yang damai dari keyakinan dan cinta
Berdetiklah di hati, meski manusia paling ganas sekali

Suara yang manis dalam bisik daun-daun
Gadis cacat dan ayat suci beralun
Meski tidak melihat, malah itulah pula
Kesuciannnya syurga hidup perdamaian manusia
Berdetiklah di hati, meski manusia paling ganas sekali

~Usman Awang


Thaurah Palestin ~ Usman Awang

Mac 26, 2007

Saudaraku Rakyat Palestin
Semangatmu lebih waja dari kereta kebal Israel
Genggaman tanganmu lebih kuat dari bom Zionis
Kau berikan cakrawala baru
Thaurah Palestin

Dengarkan di mana-mana suara menjawabnya
Perjuangan berani yang tak terkalahkan
Suara rakyat sejagat mengutuk penindasmu
Lihat jutaan mata terbuka sudah
Siapa tulang belakang menjulang kekejaman
Yang membunuh anak-anakmu

Saudaraku Rakyat Palestin
Tiba-tiba airmata jadi bara
Tiba-tiba anak-anak jadi dewasa
Tiba-tiba bilik kuliah jadi api
Senjata musuh sekadar dapat mematikan
Tetapi tidak berhasil membunuh semangat kepahlawanan
Penjara musuh sekadar memagari insan
Tetapi tidak dapat menahan gema menjerit keberanian
Yang dijawab oleh jutaan suara kebenaran
Semuanya dengan satu slogan
Mara Palestin
Thaurah Palestin

Karya : Allahyarham Datuk Usman Awang


Ke Makam Bonda ~ Usman Awang

Mac 24, 2007

Kami mengunjungi pusara bonda
Sunyi pagi disinari suria
Wangi berseri puspa kemboja
Menyambut kami mewakili bonda

Tegak kami di makam sepi
Lalang-lalang tinggi berdiri
Dua nisan terkapar mati
Hanya papan dimakan bumi

Dalam kenangan kami melihat
Mesra kasih bonda menatap
Sedang lena dalam rahap
Dua tangan kaku berdakap

Bibir bonda bersih lesu
Pernah dulu mengucupi dahiku
Kini kurasakan kasihnya lagi
Meski jauh dibatasi bumi

Nisan batu kami tegakkan
Tiada lagi lalang memanjang
Ada doa kami pohonkan
Air mawar kami siramkan

Senyum kemboja mengantar kami
Meninggalkan makam sepi sendiri
Damailah bonda dalam pengabadian
Insan kerdil mengadap Tuhan

Begitu bakti kami berikan
Tiada sama bonda melahirkan
Kasih bonda tiada sempadan
Kemuncak murni kemuliaan insan

~Usman Awang


Mata Ayah ~ Usman Awang

Mac 15, 2007

Kujabat mesra tangan ayah
Urat-urat daging-daging tua keras terasa
Mataku tersenyum, matanya menyapa
Anak yang pulang disambut mesra.

Tapi matanya, mata yang menatapku
Kolam-kolam derita dan pudar bulan pagi
Garis-garis putih lesu melingkungi hitam-suram
Suatu kelesauan yang tak pernah dipancarkan dulu.

Kelibat senyum matanya masih jua ramah
Akan menutup padaku kelesuan hidup sendiri
Bagai dalam suratnya dengan kata-kata siang
Memintaku pulang menikmati beras baru.

Anak yang pulang di sisi ayahnya maka akulah
merasakan kepedihan yang tercermin di mata
Meski kain pelekatnya bersih dalam kesegaran wuduk
Dan ia tidak pernah merasa, sebab derita itu adalah dia.

~Usman Awang


Dari Bintang Ke Bintang ~ Usman Awang

Mac 8, 2007

Ketika mata saling menyapa senyum berbunga
Tasik hati mu mencecah jiwaku mesra
Betapa debar dada kurnia alam kasih bertakhta
Kau datang tanpa suara, menjamahku tanpa sabda

Subur laksana ladang petani di lereng gunung
Ranum menguntum dalam wujud rasa maha agung
Mata yang memberi hati ini penuh menanti
Kureguk kasih menghadapi hidup seluruh berani

Kini kulihat kepalamu tersandar di jinjang pelamin
Rambutmu tersanggul terandam mengilau di cahaya lilin
Gemersik kainmu membisikkan bahagia malam pengantin
Melimpah tumpah bahagia dalam tawa teman keliling

Ketika malam kulihat matamu pada bintang
Senyummu melambai di gemilang sinar bulan
Dari bintang ke bintang kunantikan lagumu
Hanya kerdipan dalam bisu suara hatiku bimbang

Jika aku berdiri di muka jendela hati terluka
Bulan sedang mengintai di balik awan kusapa
Angin yang datang dari pelaminmu kutanya
Ia bisa mengabarkan saat adinda sedang bahagia

( 1960 – Puisi-Puisi Pilihan Sasterawan Negara, DBP 1991)