Kesedihan Itu ~ Hafiz al-Shirazi

Julai 3, 2008

Aku beruntung dari cinta kesedihan itu, usah ditanya
Racun perpisahan buat ditelan, itu usah ditanya.

Dari rindu dalam menemukan debu di pintu rumah-Mu
Kumiliki mata menitis tangis, itu usah kau tanya.

Kenapa kau gigit bibir dan berkata: “Usah bicara!”
Sudah kugetap bibir delima ‘bgitu bercahaya, itu usah

ditanya.

Di kamar kecil pengemisku, tanpa-Mu
kuderitai kesedihan dahsyat, itu usah ditanya.

Bagai orang asing, Hafiz di sepanjang jalan cinta
Aku tiba di tahap baru, namun itu usah ditanya.

Hafiz al-Shirazi, Tongue of Hidden 1988:60
Terjemahan: Dato Dr Ahmad Kamal Abdullah (Kemala)


Tanah Airku

April 14, 2008

Tanah airku tanah airku
Kemuliaan dan keindahan
Ketakjuban dan kemanisan
Di bukit-bukitmu
Kehidupan dan penyelamatan
Keseronokan dan harapan
Di dalam udara anda
Dapatkah aku melihatmu?
Selamat dan selesa
Dalam keadaan baik dan dihormati
Dapatkah aku melihatmu?
Di kegemilanganmu
Menuju bintang-bintang
Tanah airku
Tanah airku
Kaum belia tidak akan letih
Matlamat mereka adalah kemerdekaanmu
Atau mereka rela mati
Kita akan minum dari kematian
Tetapi kita tidak akan menjadi hamba musuh-musuh kami
Kita tidak mahu
Satu penghinaan yang abadi
Atau satu kehidupan yang sedih
Kita tidak mahu
Tetapi kita akan mendirikan semula
Kemuliaan kita yang agung
Tanah airku
Tanah airku
Pedang dan dakwat
Adalah simbol-simbol kita
Tidak bercakap ataupun berkelahi
Kemuliaan dan perjanjian rasmi kita
Dan kewajipan untuk berterus-terang
Menggoncang kita
Kegemilangan kita
Adalah satu tujuan yang mulia
Dan panji-panji berkibar
Mengkagumi kebahagiaanmu
Di puncak kemuliaanmu
Mengalahkan musuh-musuhmu
Tanah airku
Tanah airku

——————

“Mawtini” (Tanah Airku) (Arab: موطني) adalah sebuah puisi popular yang dicipta oleh seorang penyair terkenal Palestin, Ibrahim Touqan (Arab: إبراهيم طوقان) sekitar 1934 di Palestin dan menjadi lagu kebangsaan tidak rasmi Palestin. Muzik asal dicipta oleh Muhammad Fuliefil (Bahasa Arab: محمد فليفل). Bertahun, lagu ini menjadi sangat popular di dunia Arab.

Baru-baru ini, ia dijadikan sebagai lagu kebangsaan Iraq, menggantikan lagu lama, Ardh Alforatain.

Diambil daripada “http://ms.wikipedia.org/wiki/Mawtini


Puisi Yunus Emre (1238-1321)

Februari 29, 2008

Cinta adalah mazhab dan agamaku.
Saat mataku melihat wajah Sang Sahabat,
semua derita menjadi riang.

Ini, Rajaku,
kupersembahkan diriku pada-Mu.
Sejak mula hingga akhirnya
segala harta kekayaanku hanya diri-Mu.

Awal akal dan jiwa ini,
ketika jarak bermula
adalah bersama-Mu.
Engkaulah ujungnya, dan segala diantaranya
Aku hanya bisa maju ke arah-Mu.

Jalanku adalah dari-Mu, menuju-Mu.
Lidahku bicara tentang-Mu, dalam diri-Mu.
Walau begitu, tanganku tak bisa menyentuh-Mu.
Pemahaman ini mempesonakan daku.

Tak bisa lagi kusebut diriku “aku”.
Tak bisa lagi kusebut siapapun “engkau”.
Tak bisa kubilang ini hamba dan itu raja.
Itu takkan masuk akal.

Sejak kudapatkan cinta dari Sang Sahabat
alam ini dan alam berikutnya menyatu.
Kalau kau bertanya tentang awal yang tak berpangkal
dan akhir yang tak berujung,
itu hanya siang dan malam bagiku.

Tak bisa lagi aku berduka
atau hatiku bermuram durja,
karena suara kebenaran telah didengar,
dan aku kini dalam pesta pernikahanku.

Jangan biarkan aku mengembara dari cinta-Mu,
jangan biarkan aku meninggalkan pintu-Mu,
dan jika aku kehilangan diriku,
biarlah kutemukan dia sedang bersama-Mu.

Sang Sahabat menyuruhku kemari.
Pergi dan lihatlah dunia, katanya.
Aku telah datang dan menyaksikan
alangkah indahnya ia ditata.
Tapi mereka yang mencintai-Mu tak berhenti disini.

Dia katakan pada para hamba-Nya,
Esok kan Kuberi kalian surga.
Esok yang itu adalah hari-ini ku.

Siapa lagi yang mengerti kebenaran dan penderitaan ini?
Dan andai pun terpahami,
itu takkan terkatakan.
Maka kuhadapkan wajahku pada-Mu.

Engkaulah kehidupan dan alam semesta,
harta yang dirahasiakan.
Segala raih dan lepas adalah dari-Mu.
Tindakanku tak lagi jadi milikku.

Yunus menghadapkan wajahnya pada-Mu
melupakan dirinya.
Dia sebut setiap kata bagi-Mu.
Engkaulah yang menjadikannya bicara.

Oleh Yunus Emre
Diterjemahkan oleh Herry Mardian, dari “The Drop That Became The Sea”, Kabir Helminski (trans.)

Link asal: http://suluk.blogsome.com/2005/06/08/puisi-yunus-emre/


Cinta ~ Attar

Februari 21, 2008

Kalau matamu terbuka untuk melihat cinta,
kau jadi ceria dan menarik perhatian.

CintaNya memberiku iman dan keraguan
CintaNya adalah nyala api dihatiku
kalau tak seorang bersamaku dalam duka
cukuplah bagiku mengadu kepada Cinta

Cinta memandikanku di dalam air mata,
Dari tabir itu saya diusir oleh rambut ikalnya.

~ Fariduddin Attar


Kesabaran ~ Attar

Februari 20, 2008

Rendah hatilah dan tirulah sifat diamnya emas
dengan sabar melangkahlah di jalan itu
nanti datang padamu buah kesabaran,

Kunci emas yang akan membuka gerbang
fikirkan Tuhan dengan sabar
maka kau pun akan menemukanNya di hakikatmu.

~ Fariduddin Attar


Langkah Awal Cinta ~ Hafiz al-Shirazi

Disember 24, 2007

Hai, sini pembawa anggur, keliling beri piala begini
Untuk langkah awal cinta nampak mudah, kini masalah menerjah

Akhirnya angin mengirim bau lenggai kasturi dari dahi
Gumpalan rambut kasturi darah membeku di hati hari ini

Bisakah salik kekal ceria dan selamat di rumah yang Tercinta
Pabila, tiba-tiba loceng berdenting “Tinggalkan bebanmu, pergi!”

Dengan anggur membasah sejadah kalau Tuhan mengarah;
Pengalaman ini, pengembara tau caranya.

Malam kelam ombak dahsyat dan kitaran ganas;
Adakah caranya uji pantai tau tempat kita?

Menghadapi gairahku kumusnahkan maruah diri;
Dapatkah rahsia bertahan andainya orang berkabar tiap hari?

Hafiz, kalau ingin hadir Tuhan, usahlah mungkir;
Waktu kaukunjungi Yang Tercinta:”Selamat!” ucapkan pada dunia.

Hafiz al-Shirazi,   Tongue of Hidden, 1988:29
Terjemahan: Dato Dr Ahmad Kamal Abdullah (Kemala)
 


Hari-Hari Tak Pernah Panjang

November 5, 2007

Hari-Hari Tak Pernah Panjang

Kita bagaikan berjodoh
di pertemuan ini
memang kutahu
senyum manjamu
ukiran kehendak
yang enggan kutolak.
kita relakan bahang mendakap
hidup ini telah terlempar
dari sedar ke lelap
kita pengira yang alpa
pada peralihan yang berulang
dan debukota mendakap kita
yang kini menerima
kehadiran nafasnya.

hari-hari tak pernah panjang
atau singkat
cuma dilamakan oleh
kerisauan
dicepatkan oleh kelalaian.

~ Rahman Shaari


Fatimah ~ Seddiqeh Vasmaqi

Oktober 30, 2007

Setiap fajar pagi dan tirai malam menjelang aku terusik,
Sebab namamu senantiasa terlantun dalam derita
Namamu membuatku galau
Namamu mengirimkan semangat alam benak dan kalbu
Kalbuku adalah tempat meratapi deritamu
Memahami erti deritamu adalah masalahku
Berjuta-juta orang mengeluh
Sebab apa dikau menangis!
Apabila orang faham akan tangismu
—> seluruh dunia akan ikut menangis
Syurga tak membisu mendengar tangismu
Pun tak diam mendengar misteri agungmu
Mentari penuh mengandung hujan menahan beban deritamu
Kala tangan Ilahi menjamahmu dunia
—> dunia pun terpaku
Musim semi pun tiba usai kau tersenyum
Sang suria muncul dari balik wajah cantikmu
Duhai dikau yang bersemayam di atas langit ketujuh
Duhai dikau yang tumbuh dari tanah yang dingin
Duhai dikau yang telah melahirkan kesatria-kesatria perang!
Duhai dikau yang di hadapanmu Saturnus berlutut!
Bersamamu Kitab Suci terpercik darah tersibak
Bersamamu musim bunga tulip tiba
Kemarahanmu bercampur dengan kemarahan Kebenaran
Belati ditarik dari sangkurmu agar
—> tak tersentuh oleh kesia-siaan
Pusaramu tersembunyi dari kawan mahupun lawan
Mengingatimu menjadikan fikiranku cerah
bahagia dan kadang juga sedih
Dalam fikiranku, dikau bak semangat yang menyala
Dalam fikiranku, dikau bak misteri
Tanpamu jalan menuju cinta menjadi kabur
Sang musafir menjadi longlai dan bisu
Meski kuciptakan bayangan wajahmu dalam fikiranku
—> tetap saja aku belum mampu mendekatimu
Apa saja yang kukatakan
—> belum mampu mencitrakanmu!
Siapakah yang mampu melantunkan syair sesuai citramu?

Puisi ini merupakan nukilan Seddiqeh Vasmaqi, dari Universiti Tehran yang cuba memotretkan sosok Fatimah.


Kekayaan Jiwa ~ Syair Arab

Oktober 1, 2007

Kalaupun kekayaan itu hanyalah
kekayaan pada jiwa
walau tidak memakai baju
tidak beralas kaki
bukanlah suatu kepuasan
jika tidak lebih dari sederhana
hanya apabila ia menerima
walaupun kecil
tetapi sudah memadai

~ Syair Arab


Cinta Di Setiap Detik ~ Hafiz al-Shirazi

September 10, 2007

Lautan cinta adalah laut tak berpantai
Tanpa pasrahnya ruh, obat tak tersimpai.

Wajahmu bak bulan sabit ditatap mata asli
Bukan untuk semua mata, bulan baru mengasyikkan.

Ambillah barangan si pemabuk lebuh raya
Khazanah ini bukan untuk sesiapa saja.

Dan tugas Hafiz bukanlah untuk mengharu-Mu
Aku heran betapa hatimu taklah sekeras teras batu.

Hafiz al-Shirazi

Terjemahan:  Kemala (Dato Dr Ahmad Kamal Abdullah),  Tongue of Hidden, 1988:36