Advertisements
 

Dari Benua Cinta Penyair ~ Kemala

Mei 27, 2008

Dari benua cinta penyair
ke tanah bertuah bangsa
selepas setengah abad
mencecapi makna merdeka

1
Dari Benua Cinta penyair kujelang Tanah Bertuah Bangsa
Kuendapkan kelezatan maknawi mencecapi setengah abad

merdeka.
Merdeka hakiki, merdeka hayati, merdeka batini, merdeka

kecubung
Mimpi berpalang, belenggu keroyokan asing
Empat-setengah abad. Kami adalah bulan putih, matahari
Bersinar membinari hidup. Kami adalah
Kedaulatan pertama. Ilahi merestui dan mematrai
Selaksa gurindam, bergugusgugus doa kudus.
Dari Benua Cinta Penyair
Ke Tanah Bertuah bangsa. Kami membaca
Hikayat Delima Derita
Dengan liangliang sukma kami
Dibantai pelurupeluru bandit.
Kami menempeli lembaran yang robek dimakan bubuk
Dan anaianai. Merbau dan Kruing, Nibung dan Petaling
Kami pikul dari belantara gelap kini tertancap di dadamu
Seribu tiang seri Rumah Warisan
Monumen Keprihalan pahlawanpahlawan kecil
Tak bernama, hilang tak kembali di malam kemerdekaan
Yang gerimis. Ada desis mendesis tiba,” Kami hilang tapi
Roh kami tetap mengusap tiap jalur, bulanbintang panjipanji
Itu tubuh, darah dan kalbu kami. Kami gugur
Demi maruah pribumi dan daulah para leluhur!”

II

Selepas setengah abad terdampar, di hadapan kalian kini
Limapuluh album lusuh. Tangan mulus srikandi mana
Bakal mengelus dan menyeka debudebu musim
Menyusun, mengitar, mengawet potret tua pada sudut
Album baru yang sahih. Ada yang kelabu, ada yang

tercetaicetai
Terperangah dicakar serigala lapar. Ada kebenaran yang
Tetindih dan ada sukma wangi dihunjami tangkulak.
Aduh, dimanakah Jiwa anggun dahulu, Kekasihku?
Aku menerjang ke malammalam sepi yang panjang.
Aku menggali wilayah karang tajam di dasar laut dalam
Ini pancaroba. Ini kerikil tasbih ditampar taufan.
Rindu apakah ini Kekasihku? Qasidah tajalli benangnya
Rohani. Nasyid dan Ghazal, Seloka dan Pantun
Bersatu dengan dendam berkurun. “Kembalikan Diri
Yang terpenjara, dicambuk mungkar Karun
Sebelum padam api kemerdekaan anggun!
Dari Benua Cinta Penyair, ke Tanah Bertuah Bangsa
Selepas mencecapi Makna Merdeka
Angin tanah air berkesiur, “Ini kemerdekaan,
Ini kunci iman, Rindu Keanggunan, bara hasrat
Yang kugenggam dari binar tujuh cakrawala,
Bak Cinta kasmaran menembusi tujuh lapis bumi
Lalu kucanai Kunci Firasat, Kunci Makrifat
Kunci Hakiki,
Kunci Kasih
Kunci Rohani!

KEMALA
Kuala Lumpur, 10 Mac 2007
( DEWAN BUDAYA Mei 2007 )

Advertisements

Selamat Malam Bandung ~ Kemala

Mei 21, 2008

(untuk ken dan rendra)

Antara romantisme gunung
dan hiruk pikuk trafikmu
puisi dilontar dan dihantar ke podium
di melenium inipun
rahwana menggerogoti sinta
dan rama meruap api cemburunya

Tembang demi tembang
penyair ingin keluar dari sarung leluhurnya,
menjeritkan
‘kami bukan si malin kundang’
menolak ragu dan sesal
kami adalah syurga dan neraka sekaligus
tepuk dan bujuk
asyik yang bermata sepuluh

Kutatap lembah suburbia
singgah singkat di galeri salasar dan popo
garis, pecahan kaca atau wanita telanjang
warna abstraksi dan galauan
dan siratan magisme, kecapi ottih
“negeri abadi” dan tatapan
para leluhur menenggang duka
patah kendali. bandung yang sesak
hijau, hijau alpokat, jeruk dan salak
angkot ribut mendesakdesak
sayup sampai, pluit kereta api singgah dari jakarta
atau yang tadi dari surabaya, mata yang layu, tangan
yang jenuh
kelapa muda dan farid maulana
meramu jeans levis strauss
buku puisi, mukena dan jerembab kembang
mimpi sulit datang, meremang liar, souveniers
puisi dan penyair, metafora magistik
bergantungan di langit.

Selamat malam bandung
azan dari masjid firdaus
serap seni, daif diri, bangkrut budaya
huyung-hayang bulan tak bersari
jeriji maut dan angin bangkit abad
tanah yang dilelang, seringai paman doblang
di kuburnya, petani gaduh merana dan lusuh
para dewa menggewangi ladang rampokannya.

Dari titik ke titik
dapatkah puisi merambah duka maha insani
antara tidak apa-apa, nol dari fungsi
suara menopang telatah. desis dan bisik
‘tidak apa-apa’ kita adalah kekosongan dan
kekosongan itu kita!
heran, kata-kata hilang magisme
dia masih terus menulis dan sedia
untuk tidak apa-apa
walhal seni memertabat insani
bulan putih, violet yang diturunkan
tuhan dari syurga kekuasaanNya
selamat malam bandung
kota kembang tak jemu-jemu bersenandung.

KEMALA
Bandung-Jakarta
April 2002
(Ziarah Tanah Kudup 2006:82-83)


Dalam Isyarat ~ Kemala

April 10, 2008

Laut tak berombak
Ombak tak beriak
Camar tak melayang
Mata tak berkedip
Dada tak berdebar
Daun tak gugur
Dada tak terdepang
Lembar puisi tak terselak
Salam tak bersambut
Getaran tak menggelombang
Kasih tak berkocak
Janji tak tertunai
Helah tak tergambar
Muslihat tak terpeta
Kitab puisi tergeletak
Penyair patah kalam
Kata tak kenal pilih
Antah dalam beras
Padi terkulai lemas
Aruan tak menghambur
Ular berlingkar di lubuk
Undan kematian angin
Jejak lama tak padam-padam
Dalam rupa di mana dupa
Geruh apa dalam guruh
Sukma sebuah bertatah cinta
Rumah pertama takmenemu
Ombak tak berombak
Riak tak beriak
Gairah padam
Meluluh waham.

Kemala    
2006-2007


Dapatkah Kudekapmu ~ Kemala

Februari 27, 2008

Dapatkah kudekapmu di detik ini
dalam samar mata
waktu usia direcup uban muda
alpa tiba bagai kenangan
tiba menunda memukul dada.

Dapatkah kudekapmu di detik ini
waktu bulan samar di pucat musim
usia bak perjalanan
mengenal terminal malam
obor malam berbalam
berpuput angin tengah benua.

Dapatkah kudekapmu di detik ini
bagai hangat kelmarin memecah wajah
waktu hati mudalela
cendekia melayang sesaat
indah hanyamu mawar segala
pada setiap sudut kata
mata rohani menyambar hangat
tak kuacuh sapaan malaikat.

Dapatkah kudekapmu lagi di detik ini
bulan kasih selembut angin
sutra hati bergetar aneh
bibirmu madu
mencumbu syahdu.

Dapatkah kudekapmu lagi di detik ini
bagai pemuda alKahfi
dipilih Ilahi
memaut imani
waktu pantas menyihir seni
cinta tinggal terkapai
di pentas, selengkung bulan rawan.

Kemala
Condet, Pulau Jawa
Januari 2001
(ZIARAH TANAH KUDUP, 2006:38-39)


Sebuah Qasidah Terakhir Abad 20 ~ KEMALA

Januari 20, 2008

Kolam tenang sesekali meriak
dilanggar sayap bangau pagi.

Rumpai dan agar-agar tergetar menari
tarian arus menggodanya dalam birahi.

Karang tajam menancap
kealpaan penyelam.

Daging yang bagus, tubuh yang mulus
darah manis membaur mengabur sekaligus.

Tanah airku alam terbuka Ilahi
kamusku keindahan sejati.

Kutatap langit kupijak bumi
di jeriji mimpi Yusuf tawanan Misri.

Lukaku tersibak luas
amarah bulan melandai abad lemas.

Muara dan gunung, kotoran kalbu
menjungkir lepas.

Kutulis qasidah, senandungnya
menggelombangi pelangi.

Kotaku keujian
“kembali kau ke Cinta Diri!” ujar Umar.

Mengapa musibah tak bermata?
Mengapa gema ditelan sejarah.

Asingkan madu dari tuba
asingkan firasat dari kesumat.

Di muka pintu alaf baru
di gerbang teka-teki Alam Melayu.

Lidah anggunnya menjelir
dungu dan semu menggelincir.

Kutulis qasidah, senandungnya
menggelombangi pelangi.

Terkaparlah bangau pagi
terbakarkah sayap wangi?

Dato Dr Ahmad Kamal Abdullah (Kemala)
Kuala Lumpur, 2001
(ZIARAH TANAH KUDUP, 2006:64-65)


Sajak Akhir Abad 20 ~ Kemala

Januari 20, 2008

Kami mencari wajah yang tercalar pada akar-akar sejarah.
Gema yang terungkai membawa padah dan wasangka
Berselirat dalam batin.
Gema yang kembali menghening
Di malam putih, menyurat dan menyirat syair yang
Tak pernah selesai…
Penyair kasmarannya mati terbunuh.
Dia menggenggam surat wasiat tanpa huruf tanpa ayat,
Robek-robek dan kumal kami kepingin mencari pentafsir
Salih yang pertapaan.
“Adakah kau tahu, bulan hitam telahtimbul di hujung langit selatan ?
Adakah kau maklum cucu-cucuku,
kibar-kibaran bendera ungu dilarikan sejuta kuda sambarani putih di hutan-hutan gelap tropika.
Kumbahan laut menjulang, membangkitkan birahi baru nakhoda dan kelasi.”

Rambah, rambahlah nestapa, simbahilah luka
Ngilu.
Hiris, hirislah kesunyian pedih.
Nyanyian si anak
Hilang merintihi elegi kekasih…

Kemala


Cinta Nabi ~ Kemala

Disember 21, 2007

Waktu di Jabal Rahmah
kutatap lembah kutatap wajah
antara tugu dan kerikil batu
para hujaj memutih dalam ihram
datang lagi Cinta Nabi
airmata akhirnya mengalir
mahabbah sesama ummah
“Umatku umpama buih di akhir zaman
disepuh bayu lalu
menyerpih tak bersatu!”

Ada lembah ada wajah
purnama terbelah dua, mukjizat nyata
buktikan badai pakaianmu
meringgis nafsu.

Serigala meraung di gunung
pesona akumu dipasung
laut tak berpantai
wangkang menggerai di tanjung
tak kunjung sampai
ke Semenanjung.

Ada lembah, Hati, Rasa
waham, wasangka, Lembah Insani
firasat dan takwa menyatu
ada wajah menantang wajah.

Puput angin gurun
tergeletar nafiri luka
musafir membebat hayat
dan Kasih Nabi
ada waktunya badai
mengenal damai, insan
bangkit dari kekalahannya.

Merawat riwayat
embun dinihari
kuhimpun butir-butirmu
untuk membasuh luka sukmaku.

Seyakin angin menghampar sayap
selepas kembara senyap
malankoli telah pergi
dalam zikir di kelikir hati
setiamu tumbuh, mengukuh peri
lambai menggapai. Ada wajah
di lembah dalam metafora putih
magis Cinta Nabi
takpernah mati-mati!

Kemala
Kuala Lumpur, Malaysia