Sebuah Qasidah Terakhir Abad 20 ~ KEMALA

Kolam tenang sesekali meriak
dilanggar sayap bangau pagi.

Rumpai dan agar-agar tergetar menari
tarian arus menggodanya dalam birahi.

Karang tajam menancap
kealpaan penyelam.

Daging yang bagus, tubuh yang mulus
darah manis membaur mengabur sekaligus.

Tanah airku alam terbuka Ilahi
kamusku keindahan sejati.

Kutatap langit kupijak bumi
di jeriji mimpi Yusuf tawanan Misri.

Lukaku tersibak luas
amarah bulan melandai abad lemas.

Muara dan gunung, kotoran kalbu
menjungkir lepas.

Kutulis qasidah, senandungnya
menggelombangi pelangi.

Kotaku keujian
“kembali kau ke Cinta Diri!” ujar Umar.

Mengapa musibah tak bermata?
Mengapa gema ditelan sejarah.

Asingkan madu dari tuba
asingkan firasat dari kesumat.

Di muka pintu alaf baru
di gerbang teka-teki Alam Melayu.

Lidah anggunnya menjelir
dungu dan semu menggelincir.

Kutulis qasidah, senandungnya
menggelombangi pelangi.

Terkaparlah bangau pagi
terbakarkah sayap wangi?

Dato Dr Ahmad Kamal Abdullah (Kemala)
Kuala Lumpur, 2001
(ZIARAH TANAH KUDUP, 2006:64-65)

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: