Nina Bobok Bagi Pengantin ~ W.S Rendra

Awan bergoyang, pohonan bergoyang
antara pohonan bergoyang malaikat membayang
dari jauh bunyi merdu loceng loyang

Sepi, syahdu, rindu
candu rindu, ghairah kelabu
rebahlah, sayang, rebahlah wajahmu ke dadaku

Langit lembayung, pucuk-pucuk daun lembayung
antara daunan lembayung bergantung hati yang ruyung
dalam hawa bergulung mantera dan tenung

Mimpi remaja, bulan kenangan
duka cinta, duka berkilauan
rebahlah sayang, rebahkan mimpimu ke dadaku

Bumi berangkat tidur
duka berangkat hancur
aku tampung kau dalam pelukan tangan rindu

Sepi dan tidur, tidur dan sepi
sepi tanpa mati, tidur tanpa mati
rebahlah sayang, rebahkan dukamu ke dadaku.

~ W.S Rendra

Dipetik dari 4 Kumpulan Sajak

2 Responses to Nina Bobok Bagi Pengantin ~ W.S Rendra

  1. […] Nina Bobok Bagi Pengantin ~ W.S Rendra […]

  2. Khayri Aprilia berkata:

    PUISI TERAKHIR W.S. RENDRA

    Bismillahir-Rahmanir-Rahim .. Sahabat ini adalah karya terakhir W.S Rendra .. sebuah puisi yg melahirkan perenungan di dalam diri kita .. Selamat Menikmati ..

    – Renungan Indah –

    Seringkali aku berkata,
    Ketika semua orang memuji milikku ..
    Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan ..
    Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya ..
    Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya ..
    Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya ..
    Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya ..

    Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:

    Mengapa Dia menitipkan padaku ?
    Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?

    Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
    Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

    Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
    Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah ..
    Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka ..
    Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
    Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku …

    Aku ingin lebih banyak harta,
    ingin lebih banyak mobil,
    lebih banyak popularitas, dan
    kutolak sakit,
    kutolak kemiskinan,
    seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku …

    Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
    Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku ….

    Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih ..
    Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
    Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku …

    Gusti,
    Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah…

    … “Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja” …

    (Puisi terakhir WS.Rendra yang dituliskannya diatas ranjang RS) ….

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: