Pak Utih ~ Usman Awang

I

Punya satu isteri mau dakap sampai mati,
Lima anak mau makan setiap hari,
Teratak tua digayuti cerita pusaka,
Sebidang tanah tandus untuk huma.
Kulit tangan tegang berbelulang,
Biasa keluarkan peluh berapa saja,
O Pak Utih, petani yang berjasa.

Tapi malaria senang menjenguk mereka,
Meski dalam sembahyang doa berjuta,
Dan Mak Utih bisa panggil dukun kampung,
Lalu jampi matera serapah berulang-ulang.

Betapa Pak Dukun dan bekalan pulang,
Wang dan ayam dara diikat bersilang.

II

Di kota pemimpin berteriak-teriak,
Pilihanraya dan kemerdekaan rakyat,
Seribu kemakmuran dalam negara berdaulat,
Jambatan mas kemakmuran sampai ke akhirat.
Ketika kemenangan bersinar gemilang,
Pemimpin atas mobil maju ke depan, dadanya terbuka,
Ah, rakyat tercinta melambaikan tangan mereka.

Di mana-mana jamuan dan pesta makan,
Ayam panggang yang enak di depan,
Datang dari desa yang dijanjikan kemakmuran.

Pak Utih masih menanti dengan doa,
Bapak-bapak pergi ke mana di mobil besar?

Usman Awang
1954

English Translation

Father Utih

I

He has one wife – whom he embraces until death
five children who want to eat everyday
an old hut where an inherited tale is hanging
a piece of barren land to cultivate.

The skin of his hands is taut and calloused
accustomed to any amount of sweat
O Father Utih, the worthy peasant.

But malaria comes hunting them
even though he offers a million prayers
and Mother Utih calls the village medicine man
for magic formulas, curses repeatedly chanted.

The medicine man with his reward goes home
with money and a pullet tied together.

II

In towns the leaders keep shouting
of elections and the people’s freedom
of thousand-fold prosperity in a sovereign state
a golden bridge of prosperity into the world hereafter.

When victory brightly shines
the leaders in cars move forward,
their chests thrust forward
O! the beloved subjects wave their hands.

Everywhere there are banquets and festivities
delicious roast chicken is served
chicken from the village promised prosperity.

Father Utih still waits in prayer
where are the leaders going in their limousines?

Usman Awang
1954

(Translated by Adibah Amin)

4 Responses to Pak Utih ~ Usman Awang

  1. korie berkata:

    apakah maksud sbnarnya puisi pak utih dan huraikannya?

    • aishh_j berkata:

      pak utih orang kampung, isteri anak kena tanggung.
      rumah kayu diwarisi daripada bapak mak, rapuh, ketinggalan.
      kalau sakit panggil dukun dek tiada perubatan moden,
      pak dukun yang untung dapat duit dan ayam.
      pak utih dijanjikan kemakmuran oleh pemimpin.

      di bandar pula pembinaan menggila- gila,
      pemodenan dan kekayaan membiasa.
      pemimpin makin berlewah,
      dalam perarakan kereta mahal yang tak sudah- sudah.
      bahkan berhidangan yang daripada ayam ternakan orang kampung juga.
      orang kampung yang dijanjikan kemakmuran oleh pemimpin.

      pak utih tetap berharap.
      anda rasa pemimpin dalam kereta besar ingin melancong ke mana pula?

      –cam tu la bahasa pasar bagi budak2 zaman sekarang faham

  2. oyuki kaze berkata:

    Mengertikah mereka sindiran itu? Jika mereka yang dimaksudkan itu tak pernah punya masa untuk membaca sajak yang penuh makna ini. Apatah lagi untuk mengerti dan berjuang untuk masyarakat yang pernah mereka taburi janji percuma di bibir sahaja.

  3. Josephine's Blog berkata:

    […] Pak Utih ~ Usman Awang […]

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Ikut

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 124 other followers

%d bloggers like this: