![]()
Mawlana Jalaludin Rumi
Oleh Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani
( Grandson of Mawlana Rumi )
“Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan,
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih
jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap
orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih
yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai, dia
begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna.
Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang
tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan
mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika
kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.
( Sulthanul Awliya Mawlana Syaikh Nazhim Adil
al-Haqqani – Cucu dari Mawlana Rumi, Lefke, Cyprus
Turki, September 1998)
————————————–
Rumi memang bukan sekadar penyair, tetapi juga seorang
tokoh sufi yang berpengaruh di zamannya. Rumi adalah
guru nomor satu Thariqat Maulawiah, sebuah thariqat
yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah
sekitarnya. Thariqat Maulawiah pernah berpengaruh
besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan
kalangan seniman sekitar tahun l648.
Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan
akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Di
zamannya, ummat Islam memang sedang dilanda penyakit
itu. Bagi mereka kebenaran baru dianggap benar bila
mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu
yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, dengan
cepat mereka ingkari dan tidak diakui.
Padahal menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah
yang dapat melemahkan Iman kepada sesuatu yang ghaib.
Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula,
kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat
mata, yang diajarkan berbagai syariat dan beragam
agama samawi, bisa menjadi goyah.
Rumi mengatakan, “Orientasi kepada indera dalam
menetapkan segala hakekat keagamaan adalah gagasan
yang dipelopori kelompok Mu’tazilah. Mereka merupakan
para budak yang tunduk patuh kepada panca indera.
Mereka menyangka dirinya termasuk Ahlussunnah.
Padahal, sesungguhnya Ahlussunnah sama sekali tidak
terikat kepada indera-indera, dan tidak mau pula
memanjakannya.”
Bagi Rumi, tidak layak meniadakan sesuatu hanya karena
tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum
pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan
selalu tersembunyi di balik yang lahir, seperti faedah
penyembuhan yang terkandung dalam obat. “Padahal, yang
lahir itu senantiasa menunjukkan adanya sesuatu yang
tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya. Bukankah
Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah
kegunaannya tersembunyi di dalamnya?” tegas Rumi.
PENGARUH TABRIZ
Fariduddin Attar, salah seorang ulama dan tokoh sufi,
ketika berjumpa dengan Rumi yang baru berusia 5 tahun
pernah meramalkan bahwa si kecil itu kelak akan
menjadi tokoh spiritual besar. Sejarah kemudian
mencatat, ramalan Fariduddin Attar itu tidak meleset.
Rumi, Lahir di Balkh, Afghanistan pada 604 H atau 30
September 1207. Mawlana Rumi menyandang nama lengkap
Jalaluddin Muhammad bin Muhammad al-Balkhi al-Qunuwi.
Adapun panggilan Rumi karena sebagian besar hidupnya
dihabiskan di Konya (kini Turki), yang dahulu dikenal
sebagai daerah Rum (Roma).
Ayahnya, Bahauddin Walad Muhammad bin Husein, adalah
seorang ulama besar bermadzhab Hanafi. Dan karena
kharisma dan tingginya penguasaan ilmu agamanya, ia
digelari Sulthanul Ulama. Namun rupanya gelar itu
menimbulkan rasa iri pada sebagian ulama lain. Dan
mereka pun melancarkan fitnah dan mengadukan Bahauddin
ke penguasa. Celakanya sang penguasa terpengaruh
hingga Bahauddin harus meninggalkan Balkh, termasuk
keluarganya. Ketika itu Rumi baru berusia lima
tahun. Sejak itu Bahauddin bersama keluarganya hidup
berpindah- pindah dari suatu negara ke negara lain.
Mereka pernah tinggal di Sinabur (Iran timur laut).
Dari Sinabur pindah ke Baghdad, Makkah, Malattya
(Turki), Laranda (Iran tenggara) dan terakhir menetap
di Konya, Turki. Raja Konya Alauddin Kaiqubad,
mengangkat ayah Rumi sebagai penasihatnya, dan juga
mengangkatnya sebagai pimpinan sebuah perguruan agama
yang didirikan di ibukota tersebut. Di kota ini pula
ayah Rumi wafat ketika Rumi berusia 24 tahun.
Di samping kepada ayahnya, Rumi juga berguru kepada
Burhanuddin Muhaqqiq at-Turmudzi, sahabat dan
pengganti ayahnya memimpin perguruan. Rumi juga
menimba ilmu di Syam (Suriah) atas saran gurunya itu.
Beliau baru kembali ke Konya pada 634 H, dan ikut
mengajar di perguruan tersebut.
Setelah Burhanuddin wafat, Rumi menggantikannya
sebagai guru di Konya. Dengan pengetahuan agamanya
yang luas, di samping sebagai guru, beliau juga
menjadi da’i dan ahli hukum Islam. Ketika itu banyak
tokoh ulama yang berkumpul di Konya. Tak heran jika
Konya kemudian menjadi pusat ilmu dan tempat berkumpul
para ulama dari berbagai penjuru dunia.
Kesufian dan kepenyairan Rumi dimulai ketika beliau
sudah berumur cukup tua, 48 tahun. Sebelumnya, Rumi
adalah seorang ulama yang memimpin sebuah madrasah
yang punya murid banyak, 4.000 orang. Sebagaimana
seorang ulama, beliau juga memberi fatwa dan tumpuan
ummatnya untuk bertanya dan mengadu. Kehidupannya itu
berubah seratus delapan puluh derajat ketika beliau
berjumpa dengan seorang sufi pengelana, Syamsuddin
alias Syamsi dari kota Tabriz.
Suatu saat, seperti biasanya Rumi mengajar di hadapan
khalayak dan banyak yang menanyakan sesuatu kepadanya.
Tiba-tiba seorang lelaki asing–yakni Syamsi
Tabriz–ikut bertanya, “Apa yang dimaksud dengan
riyadhah dan ilmu?” Mendengar pertanyaan seperti itu
Rumi terkesima. Kiranya pertanyaan itu jitu dan tepat
pada sasarannya. Beliau tidak mampu menjawab.
Akhirnya Rumi berkenalan dengan Tabriz. Setelah
bergaul beberapa saat, beliau mulai kagum kepada
Tabriz yang ternyata seorang sufi.
Sultan Salad, putera Rumi, mengomentari perilaku
ayahnya itu, “Sesungguhnya, seorang guru besar
tiba-tiba menjadi seorang murid kecil. Setiap hari
sang guru besar harus menimba ilmu darinya, meski
sebenarnya beliau cukup alim dan zuhud. Tetapi itulah
kenyataannya. Dalam diri Tabriz, guru besar itu
melihat kandungan ilmu yang tiada taranya.”
Rumi telah menjadi sufi, berkat pergaulannya dengan
Tabriz. Kesedihannya berpisah dan kerinduannya untuk
berjumpa lagi dengan gurunya itu telah ikut berperan
mengembangkan emosinya, sehingga beliau menjadi
penyair yang sulit ditandingi. Guna mengenang dan
menyanjung gurunya itu, beliau tulis syair-syair, yang
himpunannya kemudian dikenal dengan nama Divan Syams
Tabriz. Beliau bukukan pula wejangan-wejangan gurunya,
dan buku itu dikenal dengan nama Maqalat Syams Tabriz.
Rumi kemudian mendapat sahabat dan sumber inspirasi
baru, Syaikh Hisamuddin Hasan bin Muhammad. Atas
dorongan sahabatnya itu, selama 15 tahun terakhir masa
hidupnya beliau berhasil menghasilkan himpunan syair
yang besar dan mengagumkan yang diberi nama Masnavi.
Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700
bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran
tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk
apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain.
Bahkan Masnavi sering disebut Qur’an Persia. Karya
tulisnya yang lain adalah Ruba’iyyat (sajak empat
baris dengan jumlah 1600 bait), Fiihi Maa fiihi (dalam
bentuk prosa; merupakan himpunan ceramahnya tentang
metafisika), dan Maktubat (himpunan surat-suratnya
kepada sahabat atau pengikutnya).
Bersama Syaikh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan
Thariqat Maulawiyah atau Jalaliyah. Thariqat ini di
Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (para
Darwisy yang berputar-putar). Nama itu muncul karena
para penganut thariqat ini melakukan tarian
berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling,
dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.
WAFATNYA MAWLANA RUMI
Semua manusia tentu akan kembali kepada-Nya.
Demikianlah yang terjadi pada Rumi. Penduduk Konya
tiba-tiba dilanda kecemasan, karena mendengar kabar
bahwa tokoh panutan mereka, Rumi, tengah menderita
sakit keras. Meskipun demikian, pikiran Rumi masih
menampakkan kejernihannya.
Seorang sahabatnya datang menjenguk dan mendo’akan,
“Semoga Allah berkenan memberi ketenangan kepadamu
dengan kesembuhan.” Rumi sempat menyahut, “Jika
engkau beriman dan bersikap manis, kematian itu akan
bermakna baik. Tapi kematian ada juga yang kafir dan
pahit.”
Pada tanggal 5 Jumadil Akhir 672 H atau 17 Desember
1273 dalam usia 68 tahun Rumi dipanggil ke
Rahmatullah. Tatkala jenazahnya hendak diberangkatkan,
penduduk setempat berdesak-desakan ingin mengantarkan
kepulangannya. Malam wafatnya beliau dikenal sebagai
Sebul Arus (Malam Penyatuan). Sampai sekarang para
pengikut Thariqat Maulawiyah masih memperingati
tanggal itu sebagai hari wafatnya beliau.
“SAMA”, Tarian Darwis yang Berputar
Suatu saat Rumi tengah tenggelam dalam kemabukannya
dalam tarian “Sama” ketika itu seorang sahabatnya
memainkan biola dan ney (seruling), beliau mengatakan,
“Seperti juga ketika salat kita berbicara dengan
Tuhan, maka dalam keadaan extase para darwis juga
berdialog dengan Tuhannya melalui cinta. Musik Sama
yang merupakan bagian salawat atas baginda Nabi
Sallallahu alaihi wasalam adalah merupakan wujud musik
cinta demi cinta Nabi saw dan pengetahuanNya.
Rumi mengatakan bahwa ada sebuah rahasia tersembunyi
dalam Musik dan Sama, dimana musik merupakan gerbang
menuju keabadian dan Sama adalah seperti electron yang
mengelilingi intinya bertawaf menuju sang Maha
Pencipta. Semasa Rumi hidup tarian “Sama” sering
dilakukan secara spontan disertai jamuan makanan dan
minuman. Rumi bersama teman darwisnya selepas solat
Isa sering melakukan tarian sama dijalan-jalan kota
Konya.
Terdapat beberapa puisi dalam Matsnawi yang memuji
Sama dan perasaan harmonis alami yang muncul dari
tarian suci ini. Dalam bab ketiga Matsnawi, Rumi
menuliskan puisi tentang kefanaan dalam Sama, “ketika
gendang ditabuh seketika itu perasaan extase merasuk
bagai buih-buih yang meleleh dari debur ombak laut”.
Tarian Sakral Sama dari tariqah Mevlevi Haqqani atau
Tariqah Mawlawiyah ini masih dilakukan saat ini di
Lefke, Cyprus Turki dibawah bimbingan Mawlana Syaikh
Nazim Adil al-Haqqani. Ajaran Sufi Mawlana Syaikh
Nazim dan mawlana Syaikh Hisyam juga merambah
keberbagai kota di Amerika maupun Eropa, sehingga
tarian Whirling Dervishes ini juga dilakukan di banyak
kota-kota di Amerika, Eropa dan Asia di bawah
bimbingan Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani ar-Rabbani.
Tarian Sama ini sebagai tiruan dari keteraturan alam
raya yang diungkap melalui perputaran planet-planet.
Perayaan Sama dari tariqah Mevlevi dilakukan dalam
situasi yang sangat sakral dan ditata dalam penataan
khusus pada abad ke tujuh belas. Perayaan ini untuk
menghormati wafatnya Rumi, suatu peristiwa yang Rumi
dambakan dan ia lukisakna dalam istilah-istilah yang
menyenangkan.
Para Anggota Tariqah Mevlevi sekarang belajar
menarikan tarian ini dengan bimbingan Mursyidnya.
Tarian ini dalam bentuknya sekarang dimulai dengan
seorang peniup suling yang memainkan Ney, seruling
kayu. Para penari masuk mengenakan pakaian putih yang
sebagai simbol kain kafan, dan jubah hitam besar
sebagai symbol alam kubur dan topi panjang merah atau
abu-abu yang menandakan batu nisan.
Akhirnya seorang Syaikh masuk paling akhir dan
menghormat para Darwish lainnya. Mereka kemudian balas
menghormati. Ketika Syaikh duduk dialas karpet merah
menyala yang menyimbolkan matahari senja merah tua
yang mengacu pada keindahan langit senja sewaktu Rumi
wafat. Syaikh mulai bersalawat untuk Rasulullah saw
yang ditulis oleh Rumi disertai iringan musik,
gendang, marawis dan seruling ney.
Peniup seruling dan penabuh gendang memulai musiknya
maka para darwis memulai dengan tiga putaran secara
perlahan yang merupakaan simbolisasi bagi tiga tahapan
yang membawa manusia menemui Tuhannya. Pada puatran
ketiga Syaikh kembali duduk dan para penari melepas
jubah hitamnya dengan gerakan yang menyimbulkan
kuburan untuk mengalami ‘ mati sebelum mati”,
kelahiran kedua.
Ketika Syaikh mengijinkan para penari menari, mereka
mulai dengan gerakan perlahan memutar seperti putaran
tawaf dan putaran planet-planet mengelilingi matahari.
Ketika tarian hamper usai maka syaikh berdiri dan
alunan musik dipercepat. Proses ini diakhiri dengan
musik penutup danpembacaan ayat suci Al-Quran.
Rombongan Penari Darwis, secara teratur menampilkan
Sama di auditorium umum di Eropa dan Amerika Serikat.
Sekalipun beberapa gerakan tarian ini pelan dan terasa
lambat tetapi para pemirsa mengatakan penampilan ini
sangat magis dan menawan. Kedalaman konsentrasi, atau
perasaan dzawq dan ketulusan para darwis menjadikan
gerakan mereka begitu menghipnotis. Pada akhir
penampilan para hadirin diminta untuk tidak bertepuk
tangan karena “Sama” adalah sebuah ritual spiritual
bukan sebuah pertunjukan seni.
Pada abad ke 17, Tariqah Mevlevi atau Mawlawiyah
dikendalikan oleh kerajaan Utsmaniyah. Meskipun
Tariqah Mawlawiyah kehilangan sebagian besar
kebebasannya ketika berada dibawah dominasi
Ustmaniyah, tetapi perlindungan Sang Raja menungkinkan
Tariqah Mawlawi menyebar luas keberbagai daerah dan
memperkenalkan kepada banyak orang tentang tatanan
musik dan tradisi puisi yang unik dan indah. Pada Abad
ke 18, Salim III seorang Sultan Utsmaniyah menjadi
anggota Tariqah Mawlawiyah dan kemudian dia
menciptakan musik untuk upacara-upacara Mawlawi.
Selama abad ke 19 , Mawlawiyah merupakan salah satu
dari sekitar Sembilan belas aliran sufi di Turtki dan
sekitar tigapuluh lima kelompok semacam itu dikerajaan
Utsmaniyah. Karena perlindungan dari raja mereka,
Mawlawi menjadi kelompok yang paling berpengarh
diseluruh kerajaan dan prestasi cultural mereka
dianggap sangat murni. Kelompok itu menjadi terkenal
di barat., Di Eropa dan Amerika pertunjukkan keliling
mereka menyita perhatian public. Selama abad 19,
sebuah panggung pertunjukkan yang didirikan di Turki
menarik perhatian banyak kelompok wisatawan Eropa yang
dating ke Turki.
Pada tahun 1925, Tariqah Mawlawi dipaksa membubarkan
diri ditanah kelahiran mereka Turki, setelah Kemal
Ataturk pendiri modernisasi Turki melarang semua
kelompok darwis lengkap dengan upacara serta
pertunjukkan mereka. Pada saat itu makam Rumi di Konya
diambil alih pemerintah dan diubah menjadi museum
Negara.
Motivasi utama Atatutrk adalah memutuskan hubungan
Turki dengan masa pertengahan guna mengintegrasikan
Turki dengan dunia modern seperti demokrasi ala barat.
Bagi Ataturk tariqah sufi menjadi ancaman bagi
modernisasi Turki. Pada saat itulah Syaikh Nazim
ق mulai menyebarkan bimbingan spiritual dan
mengajar agama Islam di Siprus, Turki.
Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani
Banyak murid yang mendatangi Mawlana Syaikh Nazim dan
menerima Thariqat Naqsybandi Haqqani. Selain itu
beliau adalah pemegang otoritas Mursyid tujuh Tariqah
Sufi besar lainnya, termasuk Mevlevi Haqqani atau
Mawlawiyah, Qodiriah, Syadziliyah, Chisty. Namun
sayang, waktu itu semua agama dilarang di Turki dan
karena beliau berada di dalam komunitas orang-orang
Turki di Siprus, agama pun dilarang di sana. Bahkan
mengumandangkan azan pun tak diperbolehkan.
Langkah Syaikh Nazim yang pertama ketika itu adalah
menuju masjid di tempat kelahirannya dan
mengumandangkan azan di sana, segera beliau dimasukkan
penjara selama seminggu. Begitu dibebaskan, Syaikh
Nazim ق pergi menuju masjid besar di Nikosia dan
melakukan azan di menaranya. Hal itu membuat para
pejabat marah dan beliau dituntut atas pelanggaran
hukum.
Sambil menunggu sidang, Syaikh Nazim ق terus
mengumandangkan azan di menara-menara masjid di
seluruh Nikosia. Sehingga tuntutannya pun terus
bertambah, ada 114 kasus yang menunggu beliau.
Pengacara menasihati beliau agar berhenti melakukan
azan, namun Syaikh Nazim ق mengatakan, “ Tidak,
aku tidak bisa mengehntikannya. Orang-orang harus
mendengar panggilan azan untuk shalat.”
Ketika hari persidangan tiba, Mawlana Syaikh Nazim
didakwa atas 114 kasus mngumandangkan azan diseluruh
Cyprus. Jika tuntutan 114 kasus itu terbukti, maka
beliau bisa dihukum 100 tahun penjara. Tetapi pada
hari yang sama hasil pemilu diumumkan di Turki.
Seorang laki-laki bernama Adnan Menderes dicalonkan
untuk berkuasa. Langkah pertamanya ketika terpilih
menjadi Presiden adalah membuka seluruh masjid-masjid
dan mengizinkan azan dikumandangkan dalam bahasa Arab.
Inilah keajaiban yang diberikan Allah swt kepada
Mawlana Syaikh Nazim.
Hingga saat ini makam Rumi di Konya tetap terpelihara
dan dikelola oleh pemerintah Turki sebagai tempat
wisata. Meskipun demikian pengunjung yang datang
kesana yang terbanyak adalah para peziarah dan bukan
wisatawan. Melalui sebuah kesepakatan pemerintah
Turki, pada tahun 1953 akhirnya menyetujui tarian
“Sama” Tariqah Mawlawi dipeertontonkan lagi di Konya
dengan syarat pertunjukan tersebut bersifat cultural
untuk para wisatawan.
Rombongan Darwis juga diijinkan untuk berkelana secara
Internasional. Meskipun demikian secara keseluruhan
berbagai aspek sufisme tetap menjadi praktek yang
illegal di Turki dan para sufi banyak diburu sejak
Ataturk melarang agama mereka.
Wa min Allah at Tawfiq
————————————-
Maulana Jalaluddin Rumi, Menari di Depan Tuhan
“AKAN tiba saatnya, ketika Konya menjadi semarak, dan
makam kita tegak di jantung kota. Gelombang demi
gelombang khalayak menjenguk mousoleum kita,
menggemakan ucapan-ucapan kita.”
Itulah ucapan Jalaluddin Rumi pada putranya, Sultan
Walad, di suatu pagi. Dan waktu kemudian berlayar,
melintasi tahun dan abad. Konya seakan terlelap dalam
debu sejarah. “Tetapi, kota Anatolia Tengah ini tetap
berdiri sebagai saksi kebenaran ucapan Rumi,” tulis
Talat Said Halman, peneliti karya-karya mistik Rumi.
Kenyataannya memang demikian. Lebih dari 7 abad, Rumi
bak bayangan yang abadi mengawal Konya, terutama untuk
pada pengikutnya, the whirling dervishes, para darwis
yang menari. Setiap tahun, dari tanggal 2-17 Desember,
jutaan peziarah menyemut menuju Konya. Dari delapan
penjuru angin mereka berarak untuk memperingati
kematian Rumi, 727 tahun silam.
Siapakah sesungguhnya makhluk ini, yang telah
menegakkan sebuah pilar di tengah khazanah keagamaan
Islam dan silang sengketa paham? “Dialah penyair
mistik terbesar sepanjang zaman,” kata orientalis
Inggris Reynold A Nicholson. “Ia bukan nabi, tetapi ia
mampu menulis kitab suci,” seru Jami, penyair Persia
Klasik, tentang karya Rumi,Matsnawi.
Gandhi pernah mengutip kata-katanya. Rembrandt
mengabadikannya dikanvas, Muhammad Iqbal, filsuf dan
penyair Pakistan, sekali waktu pernah berdendang,
“Maulana mengubah tanah menjadi madu…. Aku mabuk
oleh anggurnya; aku hidup dari napasnya.” Bahkan, Paus
Yohanes XXIII, pada 1958 menuliskan pesan khusus:
“Atas nama dunia Katolik, saya menundukkan kepala
penuh hormat mengenang Rumi.”
Besar dalam kembara
Jalaluddin dilahirkan 30 September 1207 di Balkh, kini
wilayah Afganistan. Ia Putra Bahauddin Walad, ulama
dan mistikus termasyhur, yang diusir dari kota Balkh
tatkala ia berumur 12 tahun. Pengusiran itu buntut
perbedaan pendapat antara Sultan dan Walad.
Keluarga ini kemudian tinggal di Aleppo (Damaskus),
dan di situ kebeliaan Jalaluddin diisi oleh guru-guru
bahasa Arab yang tersohor. Tak lama di Damakus,
keluarga ini pindah ke Laranda, kota di Anatolia
Tengah, atas permintaan Sultan Seljuk Alauddin
Kaykobad.
Konon, Kaykobad membujuk dalam sebuah surat kepada
Walad, “Kendati saya tak pernah menundukkan kepala
kepada seorang pun, saya siap menjadi pelayan dan
pengikut setia Anda.” Di kota ini ibu Jalaluddin,
Mu’min Khatum, meninggal dunia. Tak lama kemudian,
dalam usia 18 tahun, Jalaluddin menikah. 1226, putra
pertama Jalaluddin, Sultan Walad, lahir. Setahun
kemudian, keluarga ini pindah ke Konya, 100 Km dari
Laranda. Di sini, Bahauddin Walad mengajar di
madrasah. 1229, anak kedua Jalaluddin, Alauddin,
lahir. Dua tahun kemudian, dalam usia 82 tahun,
Bahaudin Walad meninggal dunia.
Era baru pun dialami Jalaluddin. Dia menggantikan
Walad, dan mengajarkan ilmu-ilmu ketuhanan
tradisional, tanpa menyentuh mistik. Setahun setelah
kematian ayahnya, suatu pagi, madrasahnya kedatangan
tamu, Burhannuddin Muhaqiq, yang ternyata murid
terkasih Walad. Dan ketika menyadari sang guru telah
tiada, Muhaqiq mewariskan ilmunya pada Jalaluddin.
Burhanuddin pun menggembleng muridnya dengan
latihan tasawuf yang telah dimatangkan selama 4 abad
terakhir oleh para sufi, dan beberapa kali meminta dia
ke Damakus untuk menambah lmu. 8 tahun menggembleng,
1240, Burhanuddin kembali ke Kayseri. Jalaluddin Rumi
pun menggembleng diri sendiri.
Cinta adalah menari
Tahun 1244, saat berusia 37 tahun, Jalaluddin sudah
berada di atas semua ulama di Konya. Ilmu yang dia
timba dari kitab-kitab Persia, Arab, Turki, Yunani dan
Ibrani, membuat dia nyaris ensiklopedis. Gelar Maulana
Rumi (Guru bangsa Rum) pun dia raih. Tapi, di sebuah
senja Oktober, sehabis pulang dari madrasah,
seseorang yang tak dia kenal, menjegat langkahnya, dan
menanyakan satu hal. Mendengar pertanyaan itu, Rumi
langsung pingsan!
Sebuah riwayat mengatakan, orang tak dikenal itu
bertanya, “Siapa yang lebih agung, Muhammad Rasulullah
yang berdoa, ‘Kami tak mengenal-Mu seperti seharusnya’
atau seorang sufi Persia, Bayazid Bisthami yang
berkata, ‘Subhani, mahasuci diriku, betapa agungnya
kekuasaanku’. Pertanyaan mistikus Syamsuddin Tabriz
itu mengubah hidup Rumi. Dia kemudian tak lagi
terpisahkan dari Syams. Dan di bawah pengaruh Syams,
ia menjalani periode mistik yang nyala, penuh gairah,
tanpa batas, dan kini, mulai menyukai musik. Mereka
menghabiskan hari bersama-sama, dan menurut riwayat,
selama berbulan-bulan mereka dapat bertahan hidup
tanpa kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, khusuk
menuju Cinta Ilahiah.
Tapi hal ini tak lama. Kecemburuan warga Konya,
membuat Syams pergi. Dan saat Syams kembali, warga
membunuhnya. Rumi kehilangan, kehilangan terbesar yang
dia gambarkan seperti kehidupan kehilangan mentari.
Tapi, suatu pagi, seorang pandai besi membuat
Jalaluddin menari. Pukulan penempa besi itu,
Shalahuddin, membuat dia ekstase, dan tanpa sadar
mengucapkan puisi-puisi mistis, yang berisi ketakjuban pada pengalaman syatahat. Rumi pun kemudian bersabahat
dengan Shalahuddin, yang kemudian menggantikan posisi
Syams. Dan era menari pun dimulai Rumi, menari sambil
memadahkan syair-syair cinta Ilahi. “Tarian para
darwis itulah yang kemudian menjadi semacam bentuk
ratapan Rumi atas kehilangan Syams,” jelas Talat.
Sampai meninggalnya, 17 Desember 1273, Rumi tak pernah
berhenti menari, kerana dia tak pernah berhenti
mencintai Allah. Tarian itu juga yang membuat
peringkatnya dalam inisiasi sufi berubah dari yang
mencintai jadi yang dicintai. (Aulia A Muhammad)
~ SUARA MERDEKA
Dipetik dari http://groups.yahoo.com/group/gedongpuisi
Untuk biografi yang lebih lanjut, sila klik http://ms.wikipedia.org/wiki/Jalal_al-Din_Muhammad_Rumi

















Julai 9, 2007 at 9:30 pm |
tulisan yang sangat bagus, senang saya membacanya.
Julai 18, 2007 at 10:57 am |
> Ketika sahabat datang maka tersenyumlah
> Ketika sahabat pulang maka melambailah
> Ketika sahabat menatap maka tataplah dengan kehangatan tatapan tanpa atap
>
> Lalu haruskah aku menolak jabatan tangan yang halus itu
> Atau justru lembut tangan itu yang tak dapat kuraih karena tersembunyikan
> Aku orang biasa dan bahkan terlalu biasa
> Aku adalah sosok rapuh yang butuh nasihat sahabat
> Aku adalah penyair tanpa hingar bingar sorak sorai
>
> Andai saja kau mau jadi sahabatku
>
> _./’._.**..**..**..**.
> *. .* *THanKs for being my fRieNds
> /.*. ..**.,.**.,.**.,.**.
> Be tHe BeSt iN yOuR liFe:)
> ……… , . – . – , _ , …….
> ……… ) ` – . . ‘ `( …….
> …….. / . . . .` . . ……..
> …….. |. . . . . |. . .| ……..
> ……… . . . ./ . ./ ………
> ……….. `=( /.=` ………
> …………. `-;`.-’ …………
> …………… `)| … , ……..
> ……………. || _.-’| ……..
> …………. ,_|| _,/ ……..
Julai 18, 2007 at 11:04 am |
Fitrah insani inginkan bahagia
> Ingin dikasihi dan mengasihi
> Ingin disayangi dan menyayangi
> Ingin dicintai dan menyintai
> Hingga kadangnya terlupa..
> Betapa menyintai dan ingin dicintai manusia
> Bukanlah kemuncak cinta
> Malah bukanlah hakikat bahagia!
>
> Yang sebenarnya..
> Bahagia itu maââ¬â¢nawi
> Jua bersifat rohaniah
> Lantaran kebahagiaan haqiqi seorang muââ¬â¢min
> Adalah dengan mencintai Tuhannya.
>
> Kerana..
> Cinta kepada Allah..
> Adalah cinta yang
Ogos 6, 2007 at 10:03 pm |
Ass. wr. wb.
Saya selalu pengagum Rumi, ‘n ketika browsing tentang Rumi trus mampir kesini. saya suka artikelnya tentang biografi rumi ‘n kalo boleh saya posting di blog saya http://www.mistikus-sufi.blogspot.com
September 7, 2007 at 11:44 pm |
alhamdulillah…kutemukan artikel rumi disini dan aku akan selalu kembali kesini dan ke tulisan rumi yang lain
aku pengagum rumi berat….sulit kudapatkan buku2 rumi ditoko buku..koleksiku cuma 2 buku…sekarang kutemukan gairah cinta rumi menembus ruh dan jiwaku…
suwun…trims…thanks….telah membumikan roh rumi….amal jariyah abadi…
September 26, 2007 at 11:48 pm |
Rumi adalah guru dari para guru sufi, yang keagunganya semua agama menghormatinya.
Oktober 3, 2007 at 4:48 pm |
Abadi Tanpa Meraba
Alhamdulillah,
mata buta dapat penerang
tangan buta dapat petunjuk
kaki buta dapat tuntunan
hati buta dapat pencerahan
Jalaludin Rumi tak kukenal
tak kulihat
tak kurasakan
tak kudengar
tiba -tiba didepanku
menatapku
berbinar-binar
di Lailatul qodar
Lihat!
pohon-pohon menunduk
burung-burung menunduk
binatang jalang menunduk
angin menunduk
langit dan bintang rembulan menunduk
bumi menunduk
menunduk
tunduk
ketika rumi menyebelahi
memandang tajam
didepanku
tak kupercaya
tapi nyata
mereka semua tunduk oleh keabadian
Rumi
kini didepanku
menerangi menunjuki, menuntun, mencerahkan
kebutaanku
Alhamdulillah.
Pekanbaru, 3 Oktober 2007
Untuk 300 tahun Jalaludin Rumi
dalam Tadarus Puisi
Oktober 3, 2007 at 5:11 pm |
Maaf, bukan 300 tahun tapi 800 tahun Jalaludin Ar Rumi
Oktober 9, 2007 at 1:30 pm |
jalaludin Rumi…make me speechless…
November 21, 2007 at 2:58 pm |
Bila Rumi Menari
nyanyian bukan sebarang nyanyian
tarian bukan sebarang tarian
langit dan bumi turut menari
tika mendengar puisinya
gerakannya menyimpan makna
tangan kanan di depa
diangkat menuju langit yang maha suci
tangan kiri direndahkan
ditelungkup ibarat dunia yang fana ini
bukanlah dirinya yang berputar
Malah alam ini menari mengikut jejaknya
penuh rindu dan dendam cinta pada Ilahi
Ah..jika alam pandai berkata
maka akan terbongkar segala rahasia
1
November 30, 2007 at 3:04 pm |
Wahai Rumi
menari dan teruslah menari
dalam asyik cinta Ilahi
walau jasadmu bersemadi
Wahai Rumi
menari dan teruslah menari
hiburkan hati-hati kami
basahkan ‘bumi’ yang kering ini
Ungkapkan syair cinta suci
Getarkan segenap urat dan nadi
Biar alam turut menari
Biar segalanya menjadi saksi
Kumandangkan hakikat cinta agung ini.
Wahai Rumi
menarilah..teruslah menari!
Januari 10, 2008 at 1:50 am |
saat mentari pamit
kadang semuanyapun hilang
entah…
satu…dua…sembilanbelas…nol…atau min sekalipun.
katakan Tuhan, mengapa kau sinergikan alam.
Yah, tentu jawabannya sama.
Tak pernah kubayangkan tentang Rumi
yang melantunkan ayat-ayat cintanya.
tak pernah kulalui Gibran yang sayapnya patah.
Sekali kutahu Chairil Anwar yang memegang rokok
dan mistis onggowarsito yang kadang menemani malam.
Gibran kepakkan sayapnya,
Rumi memutar tariannya,
ayat-ayat cinta berkesan dalam.
tapi itu dulu…
sekarang?
Hampa, sirna, hanya tinggal selembar kertas dalam sehelai buku.
Kemana rasamu manusia…
kemana cintamu manusia…
sedang Tuhan yang berhak angkuhpun penuh dengan Cinta.
Rumi, kapan kau hadir kembali?
tapi bukan lewat orang yang sok tahu akan dirimu.
Januari 28, 2008 at 4:55 pm |
Ya Allah gerakklah mataku
biarkan aku menari karenaMu
biarkan mulutku berdesis karena
biarkan…biarkan
hanya Kau tujuanku
hanya kau harapanku
biarkan oh biarkan
jangan hentikan npaslaku keculai kau yang menginginkannya
jangan hentikan dendang jantungku keculai kau yang mengingiknanya
jangan palingkan mukaku dari Mu
Februari 22, 2008 at 11:53 am |
Terima kasih, dengan datang ke blog ini saya jadi tambah mengenal Maulana Jalaludin Rumi yang sangat diterima semua manusia.
Mohon ijinnya untuk saya postingkan dibeberapa milis.
salam
Her B
Mei 2, 2008 at 11:52 am |
Jalaludin Rumi,mengagumkan
Mei 4, 2008 at 10:51 am |
Excited…finally i’m find this blog.aku jadi lebih tahu tentang sosok Maulana Jalaludin Rumi yang sudah lama kucari.Ia mengajari untuk lebih mencintai TUHAN dengan seni keindahan dan belajar untuk selalu MENCINTAI bukan untuk dicintai.
Mei 26, 2008 at 10:15 pm |
cinta begitu indah dengan di iringi kasih sayang yang ikhlas penuh kasih…
memberikan kedamaian kepada jiwa yang akan abadi selalu…
cinta selalu memberiku semangat yang tidak pernah padam untuk mencintai seorang kekasih yang berada disebelah kananku….
memberi semangat yang tak pernah lelah..
memberi kehangatan dalam jiwa..
dian i love u….
i love u so much…
ali i love u too…
cinta akan abadi dihati kami berdua, dengan penuh kasih dan sayang yang tiada akhir sampai maut memisahkan.amien….
Mei 29, 2008 at 6:15 pm |
pls come to :
http://www.haqqanirabbani.asia
“You dont Find Him, He finds you, O the Nearest!”
nice site!
Jun 1, 2008 at 11:15 am |
pada dasarnya hanya ada 1 cinta hakiki yang bersemayam di hati
Jun 9, 2008 at 12:07 pm |
Sugoiiiii!!!Luar biasa!!!Subhanallah….
Aku berfiir akan adakah Rumi-Rumi lain pada zaman seperti ini???
Aku tak mengerti bagaimana ia dapat begitu bahagia..
ia bisa mengenal Sang Pemcipta,bahkan tidak hanya mengenal namun memahami….
Wahaiii Rumi-Rumi ajarkan aku mencintai Tuhanku
Sungguh aku merindukannya
Aku ingin bertemu dengannya
Aku ingin memeluknya
Duhai Rumi… Aku ingin menari bersamamu…
Jun 9, 2008 at 12:10 pm |
Aku ingin menari bersama Tuhanku
Namun aku tak tahu
Bagaimana caranya
Jun 19, 2008 at 2:30 pm |
bagus banget…sangat lengkap….sangat berguna bagi sejarah perkembangan islam
Jun 28, 2008 at 11:59 am |
syair-syair Rumi begitu mengagumkan…aq merasa hidupq lebih tenang, damai, dan menjalani hidup dengan hati terbuka….semoga ini akan terus berlanjut……
Julai 3, 2008 at 4:53 pm |
pada halnya jiwa hanya satu sedangkan jasad yang benyak dimana ia bersemanyam.
aku tak tahu apakah jiku yang bersinar atau hanya jasad ku yang bersinar.
kala melihatmu aku jatuh cinta denganmu dan saat itu pula aku mendengar kata kata dari jiwamu, kita berbicara dari kening ke kening dan mendengar dari mata kita.
Julai 7, 2008 at 10:36 am |
aku hanya seorang pengembara yang tersesat
mencari jalan untuk pulang
dimanakah jalan itu?
atau aku terlalu buta untuk melihat
telah aku titipkan hatiku padanya
dan aku tak tau dia dimana
karena karena tak ada yang memberi tahuku
adakah yang tau dia diman?
bisakah kau membimbingku pulang?
kesepian ini begitu menyakitkan…
Julai 24, 2008 at 9:57 am |
Rumi IS The Best………………
September 16, 2008 at 11:55 am |
dia ada dalam cintaNya
Dia-pun ada juga dalam cintanya
keduanya, kekasih sejati sesungguhnya
Oktober 10, 2008 at 5:21 pm |
Atas nama Cinta……. Syin bersujud…..
Nun menerangi dan bertasbih ………..
Khaf Ha Ya ‘Ain Shod bergerak melingkari …
….dan bertasbih dengan ucap dan perbuatan…
Langit bermakna apabila terlihat matahari dan berawan pada siang
yang menyelimuti…
Langit bermakna apabila terlihat bintang dan bulan pada malam
yang menyelimuti
Wahai hamparan laut yang tak terbatas….
Tersenyumlah pada langit yang biru dan teduh…
Tersenyumlahlah pada matahari yang mengangkatmu menjadi awan
Yang beriring
Tersenyumlah terhadap nelayan yang mencari kehidupan di tetepian lautmu
Wahai jiwa yang kedalamannya tak tertandingi…..
…sudahkah engkau tersenyum pada unsur bumi dan langit dalam dirimu …
…sudahkah engkau bersahabat dengan unsur air dan api dalam dadamu….
Diufuk barat tertanda kemerahan terbenamnya matahari membuat cahayanya lebih indah
…..bila bersanding denganmu…
…..yang membuat ikan ikan dan mahluk bathinmu akan ikut bersujud….
…..apabila Syahadat dan tonggak Alif selalu menyelimuti bathin jiwamu…..
… ya Muqolibal Qolbu wa tsabbit Qulubana ala dinika …
….ketika hati dan jiwa berubah ubah tak tentu arah….
….hanya diri sejati yang akan menemukan makna dalam bermujahadah dan bermusyahadah…
….temukan cinta kesejatian dan kerinduan jiwa kepada Dzat Al Haqq
Surabaya, 8/12/2007
Elang langit
Oktober 17, 2008 at 8:25 pm |
rumi adalah penyair yang dasyat setiap syair_syair cintanya hanya di tujukan pada allah azza wa jalla.setiap syair cintanya,keilasannya,ketulusanya dalanm bertibadah haya ditujukan pada allah semata.rumi memang seorang penyair yang sangat dasyat.
November 23, 2008 at 12:04 am |
salam kenal
wah saya sangat surprise dengan blohg anda ini
lain kali aku post beberapa karya saya
saya undang untuk kunjungu dan kmen di blog saya ya
tks
November 24, 2008 at 8:15 am |
sahutlah panggilan kami ya fakir
kami rindukan matsnawimu bersama tari zikr
gambus dan serunai bangunkan gema takbir
dalam..dalam…dalam semampu kubongkar
November 27, 2008 at 11:21 am |
Dalam langkahku mencari Tuhan.ketemukan syair-syair Rumi nan syahdu.Dalam gerak semesta ku pahami bahwa kini cinta memanggil.Terbang jauh menembus batas wilayah dan budaya
Ada setitik cinta makhluk di Turki yang selalu memanggil.Seni seviyorum canim.kunyatakan padanya sekali lagi.Mari bersatu dalam gerak ritme Rabbani .Dalam pernikahan semesta raya.Kudendangkan syair Rumi .syahdu…………..mistik……….
Mari menari dalam tarian indah jagat raya….lupakan kotoran-kotoran di hati .Mari terbangkan jiwa menuju langit melalui pesawat cinta yang hakiki.siir icin benim canim
Disember 11, 2008 at 6:39 pm |
rumi adalah profesoor ajaran universal, ia yang menginspirasikan manusia untuk tidak tersekat oleh doktrin-doktin yang mengekang gerak manusia. yang mengajarkan bagaimana kita harus bersikap dalam kemajemukan insan di dunia. seandanya para pemimpin dunia seperti rumi maka tak kan ada darah yang tumpah dan nyawa yang terbang tanpa badan.
Disember 20, 2008 at 3:24 am |
dan tentang Putri angkatnya Kimya juga banyak memberikan Inspirasi, sudah ada yg membcanya Rekans
Disember 23, 2008 at 3:07 pm |
betapa yang aku tak biasa menemui Rumi Rumi Lain di setapakku yang menuju Rumi.
bagi sesiapa pecinta Rumi, adalah ia sang Pecinta yang mencintaiNYA seperti Rumi menelan hangat kecintaan pula padaNYA.
betapa yang aku mencintai sesiapa pula pecinta Rumi…
Disember 27, 2008 at 11:59 am |
yes
Disember 28, 2008 at 10:51 am |
Setelah aku baca salah satu kutipan dari buku mu.
Aku tak tahu apa aku bisa seperti dirimu, yang aku bisa sekarang hanyalah diam, diam dan diam terpaku.
Dan yang aku tahu ketika aku membukakan lembaran selanjutnya
aku terlupa dengan lembaran yang sebelumnya
Februari 5, 2009 at 7:03 pm |
yess….
i love rumi
Februari 11, 2009 at 5:29 pm |
Rumi sedang duduk di bawah pohon Ara nan rimbun di pelataran Surga. matanya menerawang mencari gugusan ide untuk sajak-sajaknya terbaru.. Beliau terus menerus bergumam, “Tema apa ya…, yang paling pas untuk sebuah puisi yang akan dibacakan secara syahdu ditengah indahnya surga ini?”
Lalu datang Anthony de Mello mendekati pohon Ara tersebut. Lalu menyusul dibelakangnya, tampaklah Sidartha dan Lao Tze ikut mendekat pula. Kumpulan orang-orang yang sedang asyik ngobrol di bawah pohon Ara itu makin ramai ketika Gibran, Mangunwijaya, Gandhi, dan Plato ikut bergabung. Mereka terlibat dalam sebuah pembicaraan yang cukup heboh tentang “Tema apa yang paling pas untuk sebuah puisi yang akan dibacakan secara syahdu ditengah indahnya surga ini?” Pembicaran terus berlanjut, dan Siti Jenar cuma menguping di kejauhan dan sesekali tertawa ketika muncul komentar2 lucu dari peserta diskusi tersebut…
Setelah tidak begitu lama ber-rembug, mereka sepakat bahwa tema yang paling indah yang dapat mengilmahi manusia dalam hidup dan berkarya adalah CINTA. Cinta merupakan tema puisi terindah di jiwa setiap manusia yang akan abadi menggema di bumi hingga di surga. Cinta yang begitu murni tanpa hitung-hitungan imbalan…
Cinta Kepada Sang halik lebih dari segala sesuatu dan cinta kepada sesama seperti kita mencintai diri sendiri….
Februari 21, 2009 at 12:53 am |
kata sangat mudah diucapkan sikap sangat sulit dilakukan…kadang egoisme merasuki pikiran dan sikap, hati menjadi gelap…terlena dengan sesuatu yang terlihat indah tapi fana
Februari 24, 2009 at 12:30 pm |
kaulah seni tertinggi yang pernah kumengerti
kulihat dengan batas sadarku
diantara segala yang ku tau dan tak kumengerti
engkalah puncak dari segala syair
imajinasi segala pemusik
inspirasi segala seniman
Februari 24, 2009 at 12:49 pm |
karyamu membuatku tersadar betapa ringanya pengatahuanku tentang syair..
bagai kapas jika dibandinkan dengan syairmu yang maha dahsat..
maafkan aku tuan rumi jika aku salah dalam menafsirkan syairmu, aku terlalu dangkal..
“aku ingin menguraikan cinta
tapi ketika kudatangi dia
segala yang ingin kukatakan musnah
lidahku kaku hatiku beku
untuk menguraikan cinta
kata-kataku pecah berkeping-keping
otak tak berdaya
seperti keledai yang jatuh di lumpur
cinta tak dapat dijelaskan
karena cinta sendirilah yang akan menjelaskan apa itu cinta
seperti matahari yang hanya matahari yang akan menjelaskan tentang dirinya
Februari 25, 2009 at 10:50 am |
kau cermin dari penyair yang tinggi
kau kiblat dari segala seni
uraianmu tentang cinta
tak pernah mati dari 800 tahun lalu sampai sekarang
Februari 26, 2009 at 9:49 pm |
boz klo buku gratis nya dmn sih(jalaludin rumi)
Mac 9, 2009 at 8:59 am |
ada yg pinya kumpulan puisi-puisi cinta jalaludin rumi?soalnya bukunya nyari2 blm dpt
Mac 23, 2009 at 4:17 pm |
hanya satu kata : Dasyat
April 6, 2009 at 4:35 pm |
hanya diri yang mampu memahami kita …..bukan ibu bukan bapak bukan pula orang yang kita cintai jadi liatlah dirimu dulu sebelum kamu mencitai orang lain dan memeberikan nasihat bagi orang lain
April 9, 2009 at 11:40 am |
makhluk yang menyinari wajah dunia,dia memberi pesona sinar keabadian,yang takkan pernah mati dan redup walau angin berhembus…….
April 15, 2009 at 12:49 pm |
ku harap ini semua bukan omongan belaka dalam dunia maya, namun aku kagum akan kreasi anda semua.trim
Maha Suci Diri Yang Sifat kemanusiaan-Nya
Membukakan rahasia cahaya ketuhanan-Nya yang gemilang
Kemudian kelihatan bagi makhluk-Nya dengan nyata
Dalam bentuk manusia yang makan dan minum
Duhai Kekasih hatiku, hanya engkaulah yang kucintai
kasihanilah kini pendosa yang hadir kehadiratmu.
Duhai harapanku, kebahagianku dan kesenanganku
sungguh, enggan sudah hati ini untuk mencintai selain dirimu.
Kucintai Engkau dengan dua cinta,
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu,
Cinta karena diriku Membuat aku lupa
yang lain dan senantiasa menyebut nama-Mu,
Jiwa-Mu disatukan dengan jiwaku
sebagaimana anggur disatukan dengan air suci
Jika Engkau disentuh, aku disentuhnya pula
Maka, ketika itu -dalam tiap hal- Engkau adalah aku
Cinta kepada diri-Mu,
Membuat aku melihat Engkau, karena Engkau bukakan hijab,
Tiada puji bagiku untuk ini dan itu, Bagi-Mu-lah puji dan untuk itu semua.
April 15, 2009 at 2:06 pm |
barokalloh
April 17, 2009 at 11:16 pm |
bagus sich bagus, tp jangan berlebihan lah.
cinta, tunduk, menari N bla2 bla2 smua keromatisan, ap ngak eporia tuch.
at jangan2 kt pd memaksakan imajinasi kt kp seseoerang agar kt bs membentuk tokoh yg slaras keinginan kt, bukan keinginaan kita yg melihat tokoh sbagaimana adanya. hee..
April 17, 2009 at 11:19 pm |
di pikirkan ya??
hidup wong cilk.
JAS MERAH = Jangan Lupakan Sejarah (Bung Karno sufi nyata bangsa kita)
April 19, 2009 at 10:00 pm |
Rumi seorang yang kukagumi untuk syair2 cintanya kepada Dia Sang Khalik…
Penyair dengan barisan kata tertuju hanya kepada Dia Sang Pencipta…
Sesungguhnya tiada cinta&kasih abadi tiada lain hanyalah untuk Nya…
April 21, 2009 at 8:27 am |
sudah lama ku kenal nama ini “RUMI”
sudah lama ku tau syair mu
namun begitu sulit di negri ini mencari sejarah yg kekal di bumi,
jalaludin rumi kekaguman ku pada syair mu melebihi pada tarian yg telah kau ciptaskan namun dengan adanya tarian mu melengkapi syair yang kau tuliskan…
sebait kata yang kau tulis di buku2 mu sejuta makna yang kau berikan pada pembaca mu
bye nie 2009
Mei 10, 2009 at 5:03 am |
Subhanallah…
Alhamdulillah puji syukurku hny kpd Al Haq Azza Wa Jalla…
Karna DIA lah aku tenang n bahagia menjalankan hidupMU…
Terima kasih kepada seluruh makhlukNYA yg indah…
Jiwa n hati ini akan terus MENCINTAIMU…
Dan akan terus MENCINTAIMU…
Jun 13, 2009 at 9:30 am |
Aku berjalan diatas jalan yang biasa dijalani oleh orang-orang
Jalanku adalah jalan lurus yang tiada berkelok,
Semuanya menuju sumber cahaya
Jalan ini juga yang biasa aku jumpai setiap harinya
dan
Ketika aku berkedip dan ternyata aku mempunyai sayap
Lalu ketika aku menengok kebawah
Oh…… tuhan, … ternyata …
Aku adalah seekor burung,
burung yang bermimpi menjadi manusia,-
Jun 22, 2009 at 9:26 am |
Bersama Syaikh Hisamuddin pula, Rumi mengembangkan
Thariqat Maulawiyah atau Jalaliyah. Thariqat ini di
Barat dikenal dengan nama The Whirling Dervishes (para
Darwisy yang berputar-putar). Nama itu muncul karena
para penganut thariqat ini melakukan tarian
berputar-putar, yang diiringi oleh gendang dan suling,
dalam dzikir mereka untuk mencapai ekstase.
Nah semua saja !!!
Pernahkah Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita “ajaran” ini. TIDAK PERNAH bukan ????
Lalu mengapa kalian terkagum-kagum pada hal yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW yang agung itu????
Bukankah dengan demikain ajaran sufi ini adalah bukan ajaran Islam ??????
Julai 5, 2009 at 10:37 am |
apa kamu tau siapa yang lebih sholeh? kamu atau jalaludin?
Ogos 9, 2009 at 9:05 pm
wong ndi ?
Jun 22, 2009 at 9:31 am |
Berdzikirlah sesuai dengan dzikir yang diajarakan oleh Rasulullah SAW, bukan dengan cara berputar-putar yang jelas-jelas TIDAK PERNAH DIAJARKAN OLEH RASULULLAH SAW
INGAT:
AMALAN IBADAH YANG TIDAK MENGIKUTI SUNAH RASULULLAH SAW MAKA AMALAN IBADAH ITU DITOLAK OLEH ALLAH SWT
(Kutipan hadits Riwayat Muslim)
Jun 22, 2009 at 9:35 am |
aku hanya seorang pengembara yang tersesat
mencari jalan untuk pulang
dimanakah jalan itu?
atau aku terlalu buta untuk melihat
telah aku titipkan hatiku padanya
dan aku tak tau dia dimana
karena karena tak ada yang memberi tahuku
adakah yang tau dia diman?
bisakah kau membimbingku pulang?
kesepian ini begitu menyakitkan…
MENGAPA ANDA TIDAK KEMBALI SAJA KEPADA KITABULLAH AL QUR’AN DAN SUNNAH RASULULLAH SAW ??????
MENGAPA HARUS MENCARI-CARI JALAN YANG LAIN YANG JUSTRU AKAN MENYESATKAN ANDA ???????????????
Jun 22, 2009 at 9:39 am |
AJI BERKATA :
Rumi sedang duduk di bawah pohon Ara nan rimbun di pelataran Surga. matanya menerawang mencari gugusan ide untuk sajak-sajaknya terbaru.. Beliau terus menerus bergumam, “Tema apa ya…, yang paling pas untuk sebuah puisi yang akan dibacakan secara syahdu ditengah indahnya surga ini?”
Lalu datang Anthony de Mello mendekati pohon Ara tersebut. Lalu menyusul dibelakangnya, tampaklah Sidartha dan Lao Tze ikut mendekat pula. Kumpulan orang-orang yang sedang asyik ngobrol di bawah pohon Ara itu makin ramai ketika Gibran, Mangunwijaya, Gandhi, dan Plato ikut bergabung. Mereka terlibat dalam sebuah pembicaraan yang cukup heboh tentang “Tema apa yang paling pas untuk sebuah puisi yang akan dibacakan secara syahdu ditengah indahnya surga ini?” Pembicaran terus berlanjut, dan Siti Jenar cuma menguping di kejauhan dan sesekali tertawa ketika muncul komentar2 lucu dari peserta diskusi tersebut…
KOMENTARKU:
LUCU ………..,
KOQ TAHU KALAU MEREKA ITU DI SURGA ?????
JANGAN MEMBERIKAN SUATU INFORMASI YANG MENYESATKAN UMAT, DENGAN CARA BERANGAN-ANGAN SEPERTI ITU !!!
PANUTAN YANG BENAR-BEANAR HANYALAH RASULULLAH SAW
Julai 17, 2009 at 1:46 am |
kayu tlah jadi arang/nasi tlah jadi bubur???????????????
Julai 20, 2009 at 9:14 pm |
rahasia Tuhan…
diterjemahkan dalam wujud manusia, Ia hilang namun tersa dan ada.
seperti para darwis
Julai 21, 2009 at 2:09 pm |
“Dia adalah, orang yang tidak mempunyai ketiadaan,
Saya mencintainya dan Saya mengaguminya, Saya memilih
jalannya dan Saya memalingkan muka ke jalannya. Setiap
orang mempunyai kekasih, dialah kekasih saya, kekasih
yang abadi. Dia adalah orang yang Saya cintai, dia
begitu indah, oh dia adalah yang paling sempurna.
Orang-orang yang mencintainya adalah para pecinta yang
tidak pernah sekarat. Dia adalah dia dan dia dan
mereka adalah dia. Ini adalah sebuah rahasia, jika
kalian mempunyai cinta, kalian akan memahaminya.”
Hanya Dia Wali…
lautan bergelora memukul pantai…
mengesat pasir menyuruh pergi…
mengajar sesuatu untuk kembali…
agar muncul jiwa sufi…
sebuah rahsia diberi kini…
dia mempunyai cerita tersendiri…
tiada sama malah sendiri berdiri…
siapa dia adakah wali…
jasad sama dari tanah diberi…
panggilan manusia juga didegari…
sama hidup sama berlari…
mencari cahaya disebalik diri…
bukan diri yang mati…
tapi diri yang hidup hakiki…
dia mencintai dia…
aku mencintai dia…
kau juga mencintai dia…
sama-sama mencintai dia…
siapa dia sehigga semua mencintai…
sehingga sangup menempuh mati…
hanya yang mati…
dapat merasa erti hidup yang hakiki…
hanya dia wali…
penolongku untuk terus berlari…
Ogos 9, 2009 at 9:06 pm |
Rumi adalah sebuah manifestasi Cahaya Nya pada salah satu abdi NYa di dunia ini bersama dalam madzhab cintanya kita akan terbuai dalam aroma anggur Sang Pemilik Kebunnya.
Ogos 18, 2009 at 3:31 pm |
Dear all myFriends…
Saat ini kami komunitas sama’ kota pekalongan yg dipimpin oleh habib Muh sedang menjalankan latihan rutin tiap malem jumat. Bagi rekan2 yg ada dipekalongan dan sekitarnya apabila ingin bergabung silakan,monggo,please. saat ini jammaah kami ada sekitar 40 orang. Thx for all
Ogos 26, 2009 at 8:33 am |
Sbgai umat Muhammad, tk sepantasx kita “mendewakan” Rumi sprti i2!
Jalaludin Rumi mmg hebat, syair2x sangat memukau, tp tk ada syair yg lbh indah, tk ada kata yg lbh sempurna slain yg brsumber dr Kitabullah wa sunnaturRasul!
Jgn skali2 anda tergoda dgn ajaran sufi, i2 ajaran yg menyesatkan!!!
Suri tauladan yg terbaik adlh Muhammad SAW, titik!
‘’siapakah yg lbh agung, Muhammad SAW yg berdo’a ‘kami tk mengenal-Mu sperti sharusx’
Atw sufi persia
Bayazid bisthami yg brkata ’subhani, mahasuci diriku, betapa bsr kekuasanku’
Hahahahahahahahahahahahahahahaha…
seorg sufi abal2 yg blm tentu mencium bau surga mw dibandingkan dgn Manusia terbaik spanjang masa, Kekasih Allah yg sbnrx-bnrx, Sang Pemberi syafa’at d yaumil mahsyar?
Siapa yg mengikuti ajaran rumi, brarti dia bukan umat Muhammad!
Sekian, wassalam…
November 1, 2009 at 8:34 pm |
stuju..mmg harus cerdas mem-filter dari apa yg qt baca,
smoga ketika membaca karya2 rumi, kita malah smakin
MEMUJA ALLAH SWT…
Ogos 29, 2009 at 1:00 pm |
To Syahreifan Garibaldi
Banyak baca buku. Jangan sekedar baca buku-buku fiqh. Baca-baca…baca…..!!!!!
September 2, 2009 at 6:22 am |
to:
Syahreifan Garibaldi
wong cilik
hamba Allah
kalo gak setuju lebih baik jangan ikut2an nimbrung aja mending buat aja tandingan blog ato yg laen yg setuju dg anda. kayaknya yg nulis2 di blog ini gak merugikan anda tho?…… kalo anda orang yg tidak punya dosa silahkan menghakimi….
maaf atas perbedaan persepsi saya
September 24, 2009 at 2:35 pm |
saya sedikit senang
Oktober 9, 2009 at 10:20 pm |
Pengalaman Spritual seseorang memang tidak bisa diucapkan,…kadang pengalaman itu bisa mengunci mulut orang2 yang mengalaminya karena tidak cukup kata yang tersusun untuk menterjemahkan rasa itu,…bahkan kadang ketika itu diucapkan bisa menimbulkan salah faham,karena sulitnya menterjemahkan rasa spritual itu,…Jalaludin Ar-rumi hanyalah manusia biasa,…salah jika Jalaludin dibandingkan dengan Rasulullah,…suatu penempatan yang salah,…Jalaludin adalah Manusia biasa,…Dia adalah Manusia Pecinta Tuhannya,…dimana orang mengikuti caranya untuk mencintai Tuhan-nya,…Dan Jalaludin selalu Mengiringi shalawat kepada rasulullah pada saat beliau menarikan tarian SAMA,….Semoga Jalaludin terjaga dari Fitnah,..kirimkan Al-fatehah kepada Maulana Jalaludin,…Wss
Oktober 12, 2009 at 6:02 pm |
rumi adalah sosok yang sangat banyak di kagumi.oleh setiap insan di dunia ini…dan slalu melahirkan…rumi-rumi yang dirindukan…,
dan susah banget mencari bukunya….dimedan
Oktober 15, 2009 at 3:57 am |
kala senga mrnerafyudnv