Anak ~ Khalil Gibran

Februari 6, 2007

Dan seorang perempuan yang menggendong bayi dalam dakapan dadanya berkata, Bicaralah pada kami perihal Anak.

Dan dia berkata:
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan fikiranmu
Kerana mereka memiliki fikiran mereka sendiri
Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka
Kerana jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi
Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan cuba menjadikan mereka sepertimu
Kerana hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan
Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia merenggangkanmu dengan kekuatannya, sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh.
Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur teguh yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

(Dari ‘Cinta, Keindahan, Kesunyian’)

~ Kahlil Gibran

( Diterjemahkan dari English/Indonesian ke Bahasa Melayu oleh Adriana Adelina )


Penyair ~ Khalil Gibran

Februari 6, 2007

Dia adalah rantai penghubung
Antara dunia ini dan dunia akan datang
Kolam air manis buat jiwa-jiwa yang kehausan,
Dia adalah sebatang pohon tertanam
Di lembah sungai keindahan
Memikul bebuah ranum
Bagi hati lapar yang mencari.

Dia adalah seekor burung ‘nightingale’
Menyejukkan jiwa yang dalam kedukaan
Menaikkan semangat dengan alunan melodi indahnya

Dia adalah sepotong awan putih di langit cerah
Naik dan mengembang memenuhi angkasa.
Kemudian mencurahkan kurnianya di atas padang kehidupan. Membuka kelopak mereka bagi menerima cahaya.

Dia adalah malaikat diutus Yang Maha Kuasa mengajarkan Kalam Ilahi.
Seberkas cahaya gemilang tak kunjung padam.
Tak terliput gelap malam
Tak tergoyah oleh angin kencang
Ishtar, dewi cinta, meminyakinya dengan kasih sayang
Dan, nyanyian Apollo menjadi cahayanya.

Dia adalah manusia yang selalu bersendirian,
hidup serba sederhana dan berhati suci
Dia duduk di pangkuan alam mencari inspirasi ilham
Dan berjaga di keheningan malam,
Menantikan turunnya ruh

Dia adalah si tukang jahit yang menjahit benih hatinya di ladang kasih sayang
dan kemanusiaan menyuburkannya

Inilah penyair yang dipinggirkan oleh manusia
pada zamannya,
Dan hanya dikenali sesudah jasad ditinggalkan
Dunia pun mengucapkan selamat tinggal dan kembali ia pada Ilahi

Inilah penyair yang tak meminta apa-apa
dari manusia kecuali seulas senyuman
Inilah penyair yang penuh semangat dan memenuhi
cakerawala dengan kata-kata indah
Namun manusia tetap menafikan kewujudan keindahannya

Sampai bila manusia terus terlena?
Sampai bila manusia menyanjung penguasa yang
meraih kehebatan dgn mengambil kesempatan??
Sampai bila manusia mengabaikan mereka yang boleh memperlihatkan keindahan pada jiwa-jiwa mereka
Simbol cinta dan kedamaian?

Sampai bila manusia hanya akan menyanjung jasa org yang sudah tiada?
dan melupakan si hidup yg dikelilingi penderitaan
yang menghambakan hidup mereka seperti lilin menyala
bagi menunjukkan jalan yang benar bagi orang yang lupa

Dan oh para penyair,
Kalian adalah kehidupan dalam kehidupan ini:
Telah engkau tundukkan abad demi abad termasuk tirainya.

Penyair..
Suatu hari kau akan merajai hati-hati manusia
Dan, kerana itu kerajaanmu adalah abadi.

Penyair..periksalah mahkota berdurimu..kau akan menemui kelembutan di sebalik jambangan bunga-bunga Laurel…

(Dari ‘Dam’ah Wa Ibtisamah’ -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)

~ Kahlil Gibran

( Diterjemahkan dari English/Indonesian ke Bahasa Melayu oleh Adriana Adelina )


Dua Keinginan ~ Kahlil Gibran

Februari 6, 2007

Di keheningan malam, Sang Maut turun atas hadrat Tuhan menuju ke bumi. Ia terbang melayang-layang di atas sebuah kota dan mengamati seluruh penghuni dengan tatapan matanya. Ia menyaksikan jiwa-jiwa yang melayang-layang dengan sayap-sayap mereka, dan orang-orang yang terlena di dalam kekuasaan Sang Lelap.

Ketika rembulan tersungkur di kaki langit, dan kota itu berubah warna menjadi hitam kepekatan, Sang Maut berjalan dengan langkah tenang di celah-celah kediaman – berhati-hati tidak menyentuh apa-apa pun – sehingga tiba di sebuah istana. Ia masuk melalui pagar besi berpaku tanpa sebarang halangan dan berdiri di sisi sebuah ranjang , dan tika ia menyentuh dahi si lena, lelaki itu membuka kelopak matanya dan memandang dengan penuh ketakutan.

Melihat bayangan Sang Maut di hadapannya, dia menjerit dengan suara ketakutan bercampur aduk kemarahan, “Pergilah kau dariku, mimpi yang mengerikan! Pergilah engkau makhluk jahat! Siapakah engkau ini? Dan bagaimana mungkin kau memasuki istana ini? Apa yang kau inginkan? Tinggalkan rumah ini dengan segera! Ingatlah, akulah tuan rumah ini. Nyahlah kau, kalau tidak, kupanggil para hamba suruhanku dan para pengawalku untuk mencincangmu menjadi kepingan!”

Kemudian Maut berkata dengan suara lembut, tapi sangat menakutkan, “Akulah kematian, berdiri dan tunduklah padaku.”

Dan si lelaki itu menjawab, “Apa yang kau inginkan dariku sekarang, dan benda apa yang kau cari? Kenapa kau datang ketika urusanku belum selesai? Apa yang kau inginkan dari orang kaya berkuasa seperti aku? Pergilah sana, carilah orang-orang yang lemah, dan ambillah dia! Aku ngeri melihat taring-taringmu yang berdarah dan wajahmu yang bengis, dan mataku sakit menatap sayap-sayapmu yang menjijikkan dan tubuhmu yang meloyakan.”

Namun selepas tersedar, dia menambah dengan ketakutan, “Tidak, tidak, Maut yang pengampun, jangan pedulikan apa yang telah kukatakan, kerana rasa takut membuat diriku mengucapkan kata-kata yang sesungguhnya terlarang. Maka ambillah longgokan emasku semahumu atau nyawa salah seorang dari hamba-hambaku, dan tinggalkanlah diriku… Aku masih mempunyai urusan kehidupan yang belum selesai dan berhutang emas dengan orang. Di atas laut aku memiliki kapal yang belum kembali ke pelabuhan, permintaanku..jangan ambil nyawaku… Ambillah olehmu barang yang kau inginkan dan tinggalkanlah daku. Aku punya perempuan simpanan yang luarbiasa cantiknya untuk kau pilih, Kematian. Dengarlah lagi : Aku punya seorang putera tunggal yang kusayangi, dialah sumber kegembiraan hidupku. Kutawarkan dia juga sebagai galang ganti, tapi nyawaku jangan kau cabut dan tinggalkan diriku sendirian.”

Sang Maut itu mengeruh,”Engkau tidak kaya tapi orang miskin yang tak sedar diri.” Kemudian Maut mengambil tangan orang hina itu, mencabut nyawanya, dan memberikannya kepada para malaikat di langit untuk menghukumnya.

Dan Maut berjalan perlahan di antara setinggan orang-orang miskin hingga ia mencapai rumah paling daif yang ia temukan. Ia masuk dan mendekati ranjang di mana tidur seorang pemuda dengan kelelapan yang damai. Maut menyentuh matanya, anak muda itu pun terjaga. Dan ketika melihat Sang Maut berdiri di sampingnya, ia berkata dengan suara penuh cinta dan harapan, “Aku di sini, wahai Sang Maut yang cantik. Sambutlah rohku, kerana kaulah harapan impianku. Peluklah diriku, kekasih jiwaku, kerana kau sangat penyayang dan tak kan meninggalkan diriku di sini. Kaulah utusan Ilahi, kaulah tangan kanan kebenaran. Bawalah daku pada Ilahi. Jangan tinggalkan daku di sini.”

“Aku telah memanggil dan merayumu berulang kali, namun kau tak jua datang. Tapi kini kau telah mendengar suaraku, kerana itu jangan kecewakan cintaku dengan menjauhi diri. Peluklah rohku, Sang Maut yang dikasihi.”

Kemudian Sang Maut meletakkan jari-jari lembutnya ke atas bibir yang bergetar itu, mencabut nyawanya, dan menaruh roh itu di bawah perlindungan sayap-sayapnya.

Ketika ia naik kembali ke langit, Maut menoleh ke belakang — ke dunia – dan dalam bisikan amaran ia berkata, “Hanya mereka di dunia yang mencari Keabadianlah yang sampai ke Keabadian itu.”

(Dari ‘Dam’ah Wa Ibtisamah’ -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)

~ Kahlil Gibran

(Diterjemahkan dari English/Indonesian ke Bahasa Melayu oleh Adriana Adelina)


Mimpi ~ Khalil Gibran

Februari 6, 2007

Kala malam datang dan rasa kantuk membentangkan selimutnya di wajah bumi, aku bangun dan berjalan ke laut, “Laut tidak pernah tidur, dan dalam keterjagaannya itu laut menjadi penghibur bagi jiwa yang terjaga.”,

Ketika aku sampai di pantai, kabus dari gunung menjuntaikan kakinya seperti selembar jilbab yang menghiasi wajah seorang gadis. Aku melihat ombak yang berdeburan. Aku mendengar puji-pujiannya kepada Tuhan dan bermeditasi di atas kekuatan abadi yang tersembunyi di dalam ombak-ombak itu – kekuatan yang lari bersama angin, mendaki gunung, tersenyum lewat bibir sang mawar dan menyanyi dengan desiran air yang mengalir di parit-parit.

Lalu aku melihat tiga Putera Kegelapan duduk di atas sebongkah batu. Aku menghampirinya seolah-olah ada kekuatan yang menarikku tanpa aku dapat melawannya.

Aku berhenti beberapa langkah dari Putera Kegelapan itu seakan-akan ada tenaga magis yang menahanku. Saat itu, salah satunya berdiri dan dengan suara yang seolah berasal dari dalam laut ia berkata:
“Hidup tanpa cinta ibarat pohon yang tidak berbunga dan berbuah. Dan cinta tanpa keindahan seperti bunga tanpa aroma semerbak dan seperti buah tanpa biji. Hidup, cinta dan keindahan adalah tiga dalam satu, yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.”

Putera kedua berkata dengan suara bergema seperti air terjun,”Hidup tanpa berjuang seperti empat musim yang kehilangan musim bunganya. Dan perjuangan tanpa hak seperti padang pasir yang tandus. Hidup, perjuangan dan hak adalah tiga dalam satu yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.”

Kemudian Putera ketiga membuka mulutnya seperti dentuman halilintar :

“Hidup tanpa kebebasan seperti tubuh tanpa jiwa, dan kebebasan tanpa akal seperti roh yang kebingungan. Hidup, kebebasan dan akal adalah tiga dalam satu, abadi dan tidak pernah sirna.”
Selanjutnya ketiga-tiganya berdiri dan berkata dengan suara yang menggerunkan sekali:

‘Itulah anak-anak cinta,
Buah dari perjuangan,
Akibat dari kebebasan,
Tiga manifestasi Tuhan,
Dan Tuhan adalah ungkapan
dari alam yang bijaksana.’

Saat itu diam melangut, hanya gemersik sayap-sayap yang tak nampak dan getaran tubuh-tubuh halus yang terus-menerus.

Aku menutup mata dan mendengar gema yang baru saja berlalu. Ketika aku membuka mataku, aku tidak lagi melihat Putera-Putera Kegelapan itu, hanya laut yang dipeluk halimunan. Aku duduk, tidak memandang apa-apa pun kecuali asap dupa yang menggulung ke syurga.

~ Khalil Gibran

Diterjemahkan dari English/Indonesian ke Bahasa Melayu oleh Adriana Adelina


Biografi Khalil Gibran (1883-1931)

Februari 5, 2007


Khalil Gibran was born in Bechari (Bsharri), Lebanon, a mountain village of Maronite Christians. A talented child, he was modelling, drawing, and writing at an early age. Gibran’s mother took her children to the United States, but their father remained in Lebanon.

The family settled first in Boston, then in New York. Gibran returned to Lebanon in 1897 for two years to study Arabic literature in Beirut at al-Hikma College. Gibran’s artistic talents was recognized early and he was introduced to F. Holland Day, a photographer, who tutored him in art and literature. Through Day Gibran was given entrée to Boston society, where he acquired valuable contacts. Gibran’s mother died when he was 20. His sister supported him while he established himself as a writer and painter. Gibran’s most ardent benefactress was Mary Haskell, the headmistress of a progressive girl’s school in Cambridge. She supported her protégé financially for most of his career.

In 1904 Gibran had his first art exhibition in Boston. His first book, AL-MUSIQA (1905) was about music. It was followed by two collections of short stories and a novelette in 1912. From 1908 to 1910 he studied art in Paris with August Rodin. In 1912 he settled in New York, where he devoted himself to writing and painting. Though concerned with the transcendental in his books, the basic subject in Gibran’s art was naked human bodies, tenderly intertwined .

Gibran’s early works were written in Arabic and are considered central to the development of modern Arabic literature. Gibran also wrote for journals published by the Lebanese and Arab communities in the U.S. From 1918 he wrote mostly in English and managed to revolutionize the language of poetry in the 1920s and 1930s. His first book for the publishing company Alfred Knopf was THE MADMAN (1918), a slim volume of aphorisms and parables written in biblical cadence somewhere between poetry and prose.

Usually Gibran used prophetic tone to condemn the evils that torment his homeland or threaten the humankind. His style, a combination of beauty and spirituality, became known as ‘Gibranism’. “I am a stranger to myself. I hear my tongue speak, but my ears find that voice strange. I may see my hidden self laughing, crying, defiant frightened, and thus does my being become enamored of my being and thus my soul begs my soul for explanation. But I remain unknown, hidden, shrouded in fog, veiled in silence.” (from ‘The Poet’)

In 1920 he founded a society for Arab writers called “Aribitah” (the pen bond), and supported the struggle to revolutionize the classically conservative Arabic literature. A very important channel for new ideas was Al Magar, the first New York Arabic newspaper, that Gibran wrote for. Other influential writers included Mikha’il Nu’aima (1889-1988), Iliya Abu Madi (1889-1957), Nasib Arida (1887-1946), Nadra Haddad (1881-1950), and Ilyas Abu Sabaka (1903-47). Especially Mikha’il Nu’aima’s critical writings paved way to new freedom in poetic expression. Although Gibran was not a great poetry in verse, and most of his writings in prose should not be regarded as ‘poetry’, he opened doors to a new kind of creativity. Salma Khadra Jayyusi wrote in 1987 that Gibran’s rhythm “fell on ears like magic, intoxicating in its frequent use of interrogations, repetitions, and the vocative; by a language which was at once modern, elegant, and original; and by an imagery that was evocative and imbued with a healthy measure of emotion. His vision of a world made sterile by dead mores and conventions but redeemable through love, good will, and constructive action deepened his readers’ insights en enlightened their views of life and man.”

Gibran died of liver disease, possibly accelerated by alcoholism, in New York on April 10, 1931. Upon his death, his body was shipped back to his hometown in Lebanon, where alongside his tomb The Gibran Museum was later established. In his will Gibran left all the royalties of his books to his native village.

“When the souls rise in the
light of their joy, my soul ascends glorified by the
dark of grief.
I am like you, Night! And when my morn comes, then
my time will end.”

Gibran’s best-known work is THE PROPHET, a partly autobiographical book of 26 poetic essays, which has been translated into over 20 languages. The Prophet, who has lived in a foreign city 12 years, is about to board a ship that will take him home. He is stopped by a group of people, whom he teaches the mysteries of life. The resulting 26 sermons are meant to emancipate the listeners. In the 1960s The Prophet became a counterculture guide and in the 1980s the message of spiritualism overcoming material success was adopted by Yuppies. Critics have not treated the book well. Its mystical poetry is frequently read at weddings even today. Among Gibran’s other popular books is THE EARTH GODS (1931), a dialogue in free verse between three titans on the human destiny.


Biografi Chairil Anwar (1922 – 1949)

Februari 5, 2007


Chairil Anwar dilahirkan di Medan, 26 Julai 1922. Dia dibesarkan dalam keluarga yang cukup berantakan. Kedua ibu bapanya bercerai, dan ayahnya berkahwin lagi. Selepas perceraian itu, saat habis SMA, Chairil mengikut ibunya ke Jakarta.

Semasa kecil di Medan, Chairil sangat rapat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil. Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:

Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta

Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.

Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya. Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.

Rakannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”

Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.

Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta cerai. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.

Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.

Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”


Rahsia Tarikh Lahir. Keterangan lanjut, sila klik sini.


Catatan Tuhan

Februari 3, 2007

Kalam Loh Mahfuz mencatat…
Dan sesudah mencatat…
Lagi mencatat…
Segala doa dan ikhtiar…
Tidak dapat memadamkan catatan Ilahi….
Biarpun hanya sekerat baris……..
Pun seberapa banyak air mata….
Sepatah pun tidak akan terhakis…..
Catatan Tuhan Yang Maha Menyayangi.

~ Umar Khayyam ~


Aku adalah kehidupan, kekasihku

Februari 3, 2007

Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku …

~Jalaluddin Rumi


Biografi Umar Khayyam

Februari 3, 2007

UMAR AL-KHAYYAM (1044-1123 A.D.)

UMAR Khayyam terkenal dengan namanya sebagai seorang penyair unggul Parsi dan ahli astronomi. Beliau juga dikenali sebagai ahli matematik Islam yang telah memperkenalkan sebuah persamaan parsiel antara algebra dengan geometri.

Nama penuh Umar Khayyam ialah Umar Ibnu Ibrahim al-Khayyami. Beliau dilahirkan di Nisyapur, Semenanjung Khurasan pada 433H/1040M dan meninggal dunia pada 517H/ 1123-1124M.

Sejak kecil beliau sudah memperoleh pendidikan yang baik dan teratur daripada orang tuanya yang memang termasuk dalam kategori orang berada.

Salah seorang gurunya ialah Imam Muwaffak, pendidik yang amat terkenal di Nisyapur. Kecemerlangannya, berjaya menarik perhatian Sultan Malik Syah sehingga ditawarkan untuk berkhidmat di istana.

Namun, Umar Khayyam tidak berminat. Beliau lebih tertarik kepada dunia keilmuan, sastera dan sains. Oleh itu, sultan telah mendirikan sebuah observatori astronomi yang menjadi tempat Umar Khayyam mengembangkan ilmunya. Di samping itu, beliau juga dilantik menjadi ketua kepada lapansarjana yang melakukan penelitian astronomi di Perguruan Tinggi Nizamiah, Baghdad, Iraq.

Para ilmuwan ini kemudian melakukan modifikasi terhadap perhitungan takwim Islam. Pembaharuan ini didasarkan pada pemikiran dan juga kenyataan bahawa manusia hanya mengenal tahun syamsiyah (yang mempunyai 365 hari) dan tahun qamariah (354 hari).

Pada dasarnya ini merupakan sebuah tugas mirip dengan revisi yang dilakukan oleh Paus Gregory XIII pada 1528M terhadap kalendar Kristian atau kalendar Julian (Julius Caesar) yang telah dipakai sejak 46M. Hasil kerja kelompok Umar Khayyam ternyata jauh lebih baik berbanding yang dilakukan oleh Paus Gregory XIII.

Sejak 1079M, Umar Khayyam telah mula menerbitkan hasil penelitiannya berupa gambar rajah astronomi yang dikenali sebagai Zij Malik Syah. Begitu juga karyanya dalam bidang matematik, khususnya mengenai algebra serta sebuah buku penyelidikan daripada buku The Difficullies of Euclid’s Definitions (Kesulitan Definis Fuclides). Semuanya sehingga kini masih tersimpan dengan baik.

Karyanya tentang Al-Jabr (Algebra) telah diterjemahkan dan disunting oleh F.Woepeke ke dalam bahasa Perancis (1857M). Ia merupakan sumbangan amat berharga bagi negerinya serta bagi pengajian bidang matematik pada umumnya.

Beliau merupakan orang pertama secara ilmiah mengklasifikasikan persamaan-persamaan tingkat satu (persamaan Linear) serta memikirkan kemungkinan dan mengutamakan masalah persamaan pangkat tiga (kubik) yang berpangkal daripada persamaan umum. Lain halnya dengan al-Khawarizmi yang lebih banyak mencurahkan perhatiannya kepada persamaan kuadrat.

Umar Khayyam turut menghasilkan Jawami al-Hisab yang mengandungi rujukan awal mengenai segi tiga Pascal dan menguji balik postulat V Euclides yang berkait dengan teori garis sejajar.

Dalam satu risalahnya, beliau membincangkan kesulitan definisi Euclides yang menggambarkan segi empat ABCD dengan sisi AB dan DC yang sama dengan yang lain.

Umar Khayyam dan al-Thusi juga menyedari bahawa ada kemungkinan jumlah sudut sebuah segi tiga kurang daripada 180 darjah.

Karya syair Umar Khayyam disusun dalam satu kumpulan rubaiyyat atau quatrain (syair empat baris). Kebanyakan karyanya menyingkap kerendahan hati dan sifatnya kepada Allah s.w.t.. Bahkan, hasil karya Umar Khayyam telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris oleh Fitz Gerald pada 1859M.

Pada 1893, E.H. Whinfiel pernah menterjemahkan sebuah buku edisi Umar Khayyam, 500 Quatrains, A Scholarly Work. Kemudiannya pada 1902, Bjerregard telah menerbitkan buku Sufi Interpretations of the Quatrains of Omar Khayyam and Fitz Gerald.

——————–

Biography of Omar Khayyam (Umar Khayyam)

Umar Khayyam was born on May 18, 1048 in Nishapur, Iran. He was an outstanding mathematician and astronomer and, wrote several works including Problems of Arithmetic, a book on music and one on algebra before he was 25 years old.

In 1070 he moved to Samarkand in Uzbekistan which is one of the oldest cities of Central Asia. There Khayyam was supported by Abu Tahir, a prominent jurist of Samarkand, and this allowed him to write his most famous algebra work, Treatise on Demonstration of Problems of Algebra.

Malik Shah the grandson of Toghril Beg, the founder of the Seljuk dynasty ruled the city of Isfahan from 1073 AD. His vizier Nizam-ul-Mulk invited Khayyam to Isfahan, to set up an observatory. Other leading astronomers were also invited to work at the observatory and for 18 years Khayyam led the scientists and produced work of outstanding quality. It was a period of peace during which the political situation allowed Khayyam the opportunity to devote himself entirely to his scholarly work. During this time Khayyam led work on compiling astronomical tables and he also contributed to calendar reform in 1079. Khayyam measured the length of the year as 365.24219858156 days, we know now that the length of the year is changing in the sixth decimal place over a person’s lifetime. It is also outstandingly accurate. For comparison the length of the year at the end of the 19th century was 365.242196 days, while today it is 365.242190 days.

Outside the world of mathematics, Khayyam is best known as a result of Edward Fitzgerald’s popular translation in 1859 of nearly 600 short four line poems the Rubaiyat. Khayyam’s fame as a poet has caused some to forget his scientific achievements which were much more substantial. Versions of the forms and verses used in the Rubaiyat existed in Persian literature before Khayyam, and only about 120 of the verses can be attributed to him with certainty.

Umar Khayyam died on Dec 04, 1131. ..


Biografi Hamzah Fansuri

Februari 3, 2007

Hamzah Fansuri: Pujangga Sufi Agung Melayu
[Oleh Muhamad Ikhram Fadhly bin Hussin ]

SYEIKH Hamzah Fansuri ialah seorang ulama dan pujangga besar Melayu. Beliaulah penyair Melayu pertama yang menggubah syair-syair bersifat agama. Hamzah Fansuri dipercayai dilahirkan pada akhir abad ke-16 di Barus atau Panchor, Sumatera Utara. Panchor disebut Fansur dalam bahasa Arab. Pada tahun 1726, Francois Valentijn dalam bukunya Oud en Nieuw Oost-Indie (Hindia Timur Lama dan Baharu) pada bab mengenai Sumatera, menyebut Hamzah Fansuri sebagai seorang penyair yang dilahirkan di Fansur.

Karya-karya Hamzah Fansuri telah dikaji oleh para sarjana Timur dan Barat iaitu Kraemaer, Doorenbos, Al-Attas, Teeuw, Brakel, Sweeney, Braginsky dan Abdul Hadi.

Kajian al-Attas yang merupakan analisis semantik dianggap sebagai kajian yang paling menyeluruh dan hebat terhadap pegangan mistisisme Hamzah Fansuri.

Pada masa yang sama, kajian mereka ini telah memberikan penjelasan yang amat penting mengenai sumbangan Hamzah terhadap sastera Melayu.

Pemikiran dan pegangan Hamzah Fansuri terpancar dalam karya-karya beliau meliputi karya prosa dan puisi.

Hamzah adalah pengembang tarekat Wujudiyah. Gambaran tentang ajaran Wujudiyah ini dapat dikutip daripada karangan beliau Asrar al-Arifin dan Sharab al-Asyikin.

Fahaman ini beranggapan bahawa segala makhluk itu pada asasnya esa, kerana wujud daripada zat Allah.

Dalam hujahnya menerusi kitab-kitab ini, terkesan bahawa Hamzah terpengaruh dengan faham Ibn Arabi, ahli tasawuf yang masyhur pada akhir abad ke-12 dan awal abad ke-13.

Selain itu, Hamzah turut menyisipkan dalam karangannya kutipan-kutipan ahli tasawuf Parsi seperti al-Junaid, Mansor Hallaj, Jalaluddin Rumi, Abi Yazid Bistami, dan Shamsu Tabriz.

Karangan-karangan prosa Hamzah yang terpenting ialah Asrar al-Arifin (Rahsia Orang yang Bijaksana), Sharab al-Asyikin (Minuman Segala Orang yang Berahi) dan Zinat al-Muwahidin (Perhiasan Sekalian Orang yang Mengesakan).

Syair-syair beliau pula ialah Syair Si Burung Pingai, Syair Si Burung Pungguk, Syair Sidang Fakir, Syair Dagang dan Syair Perahu.

Melalui hasil karangannya, dijelaskan mengapa orang harus mencari Tuhan dan juga sebagai garis petunjuk untuk mencari Tuhan.

Syair-syair Hamzah sarat dengan estetika, ilmu dan falsafah diolah berdasarkan pengaruh pantun menampakkan bahawa Hamzah menguasai puisi Parsi bersifat tasawuf dan memupuk rasa cinta akan Allah.

Hamzahlah penyajak Melayu pertama yang menggunakan syair dalam tulisan agama.

Winstedt mengatakan cara pemikiran Hamzah sesuai dengan pemikiran yang terdapat dalam karangan-karangan ahli-ahli falsafah, pujangga dan pengarang-pengarang besar Barat seperti St. Augustino (354-430), John Lyly (1553-1606), Francis Bacon (1561-1662), John Milton (1608-1674), Sydney Smith (1771-1845) dan lain-lainnya.

Pengiktirafan tersebut mewajarkan Hamzah Fansuri diangkat sebagai pelopor kesusasteraan Melayu moden di alam Melayu.